Krisis Utang Eropa dan Perekonomian (gambar dan grafiknya tidak dapat diakses di blog ini sepertinya)

Krisis Utang Eropa dan Perekonomian Indonesia

Frida Yanti Putri Nababan

1006689952

 

  1. 1.   Krisis Utang Eropa

Krisis utang di Eropa pertama kali dipicu oleh pertumbuhan kredit yang sangat pesat dalam jangka waktu yang relatif panjang sebagai akibat dari.

  1. a.    Penyebab lokal

Perilaku tidak bertanggung jawab dari pemerintah dan individual di beberapa Negara Euro Zone (EZ), terutama Yunani, Portugal, Irlandia, dan sampai batas tertentu juga Spanyol dan Portugal. Dan terakhir ini ada masalah baru pemicu krisis yang lebih besar lagi akibat krisis di Italia.

Defisit anggaran dan utang negara yang sangat besar pada krisis 2008-2009, langsung menghilangkan kepercayaan investor terhadap solvabilitas negara-negara tersebut, sehingga obligasi negara-negara tersebut ‘kurang’ berharga lagi mata investor, hal tersebut memicu terjadinya krisis.

Indikator terjadinya krisis yang diakibatkan penyebab lokal adalah defisit anggaran dan utang pemerintah. Data hingga saat ini, Yunani (-5.4%), Portugal (3.7%), Spanyol (0.3 %), dan Irlandia (1.5%)

  1. b.    Penyebab sistemik

Penyebab sistemik (systemic causes) adalah ketika krisis disebabkan oleh hal-hal di luar jangkauan pihak-pihak yang berwenang dan dampaknya bersifat non-lokal.

Dengan mengadopsi Euro, investor melihat asset-aset yang lebih menarik di negara-negara Euro Zone, sehingga menimbulkan arus dana keluar yang besar dan exuberant dari negara-negara Eropa ke negara-negara seperti Yunani dan Portugal. Akhirnya terjadi dampak “capital flow bonanzaz “(Reinhart) dan “sudden stop” (Calvo, Izquierdo, dan Mejia). Selain itu, penggunaan single currency Euro juga sangat membatasi fleksibilitas negara-negara Euro-Zone dalam pengelolaan neraca pembayaran.

 

 

Indikator yang tepat untuk mengukur dampak dari krisis yang disebabkan oleh penyebab sistemik adalah defisit transaksi berjalan. Data hingga saat ini, Portugal(-9.4%)< Yunani (-8.4%)< Spanyol (-5.8%)< Irlandia (-1.8%).

Namun demikian, sebenarnya pada awal pembentukan Euro, negara-negara Euro-Zone sudah mengalami defisit transaksi berjalan yang melonjak tajam dan defisit anggaran yang semakin ketat. 

Mengapa Krisis Eropa tidak dapat diantisipasi sebelumnya ?

  1. Antar bank masih saling meragukan kelayakan partnernya, karena banyak diantara mereka yang menginvestasikan dananya di produk- produk keuangan yang ‘opaque’ dan ‘overprice’
  2. Akibatnya interbank market rontok dan premi resiko pinjaman antar bank melonjak.
  3. Bank menghadapi masalah likuiditas yang parah
  4. Kebanyakan masih menganggap ini adalah masalah likuiditas, dan tidak menduga akan terjadi kerontokan secara sistemik.

 

Source : file://upload.wikimedia.org/ Wikipedia/commons/0/0c/Public-debt-percent-gdp-world-map-2010.svg

 

Yunani

Yunani adalah salah satu negara yang tumbuh sangat pesat, sekitar 4,2 % pertahun pada periode 2000-2007 , ditopang oleh arus masuk yang sangat deras. Ekonomi yang buoyant dan yield obligasi yang terus menurun menyebabkan  pemerintah Yunani mengalami structural defisit yang sangat besar. Hal yang sama juga terjadi di Portugal.

Irlandia

Sovereign debt crisis yang yang terjadi di Irlandia bukan disebabkan oleh belanja pemerintah yang terlalu besar, namun diakibatkan karen Pemerintah yang  menjamin 6 bank Irlandia yang membiayai property bubble. 29 September 2008,Menteri Keuangan Irlandia menerbitkan jaminan satu tahun untuk semua deposito dan pemegang obligasi

          Diperkirakan perekonomian global akan semakin melemah, karena :

  1. Masalah pengangguran yang semakin tinggi -9%
  2. Adanya potensi krisis utang lainnya di negara anggota Euro zone lainnya, seperti Italia dan France
  3. Terganggunya global supply chain di German and Perancis, dan
  4. Perlambatan pertumbuhan ekonomi China, motor penggerak dunia

Italia

            Krisis di Italia memasuki babak baru seiring melonjaknya tingkat imbal hasil surat utang pemerintah. tingkat imbal hasil surat berharganya melonjak hingga 7,502 persen, tertinggi sejak Euro diperkenalkan pada tahun 1999. Investor terpaksa menjual surat-surat berharga Italia setelah kustodian Eropa menaikkan kolateral yang dibutuhkan untuk meminjam dengan surat utang itu. Tingkat imbal hasil 7% adalah sama dengan negara-negara Eropa yang sedang mencari dana talangan akibat melonjaknya biaya-biaya utang seperti Irlandia dan Portugal.  Investor semakin khawatir ketidakstabilan kondisi politik setelah mundurnya Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi bisa menyebabkan reformasi ekonomi tertunda. Jika krisis Italia memburuk, maka para pemimpin Eropa dan internasional harus berjuang untuk memberikan bailout yang cukup besar pada Italia yang merupakan negara terbesar ketika di kawasan Eropa. Padahal menurut seorang pejabat, kawasan Eropa tidak memiliki rencana untuk penyelamatan Italia.

 

Kondisi perekonomian global saat ini terlihat dalam index-index di bawah ini.

  1. 2.   Dampak Krisis Eropa terhadap Negara-negara berkembang

Dampak Krisis Utang Eropa dan Amerika terhadap negara-negara berkembang adalah :

  1. Melambatnya proses perbaikan ekonomi di AS berdampak negatif pada perekonomian negara mitra dagang AS
  2. Harga minyak dan komoditas cenderung bertahan di level yang tinggi, memperlemah produksi dan konsumsi global, berpotensi meningkatkan inflasi dan overheating di negara-negara berkembang
  3. Besarnya fiscal imbalances di negara-negara maju memaka dilakukannya penyesuain fiskal, yang memperburuk prospek perekonomian global kedepannya dan meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global.
  1. 3.   Dampak Krisis Eropa terhadap Indonesia

Source : Bank Indonesia

 

Seperti terlihat di tabel, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 %, dengan kondisi makro yang masih baik. Dilihat dari sumber-sumber pertumbuhan, kondisi makro Indonesia adalah:

  • Dari sisi permintaan

–          Ekspor  dan Impor yang masih meningkat, apalagi didukung oleh kenaikan harga komoditas

 

–          Konsumsi domestik yang masih tinggi, didukung oleh peningkatan daya beli masyarakat

–          Investasi yang melonjak, terutama di sektor bangunan dan infrastruktur.

  • Dari sektor penawaran

–          Sektor manufaktur tertentu mulai bergairah

–          Sektor perdagangan dan restoran mulai meningkat

–          Sektor transportasi dan telekomunikasi mulai bergairah

 

  • Surplus Neraca Pembayaran

–          Transaksi berjalan mengalami surplus karena peningkatan harga komoditas, yang menutupi  kenaikan impor minyak dan gas

–          Surplus transaksi modal dan keuangan bertambah besar karena persepsi positif oleh para investor mengenai fundamental ekonomi Indonesia yang bagus dan imbal hasil (yield) rupiah yang menarik.

–          Sebagai akibatnya, cadangan devisa meningkat tajam, diatas 120 USD milyar, yang merupakan yang tertinggi sepanjang masa dan lebih dari 2 kali lipat hanya dalam dua tahun.

Prospek arus modal masuk ke Emerging Market adalah sebagian besar private inflows ke Emerging Market mengalir ke China (USD 300 Milyar) dan India (USD 104,1 Milyar). Sedangkan sekitar USD 68 Milyar diperkirakan akan masuk ke Negara Asia lainnya.

 

Item (Sisi Liabilities –USD Juta

2009

2010

2011f

2012f

Total Capital Inflows (Private and Public Inflows)-EM Asia-IIF

393,900.0

513,100.0

498,500.0

456,300.0

Capital Inflows Indonesia

19,151.7

32,987.7

30,765.6

32,691.4

Source  :IIF June 2011

            Selain itu, Indonesia juga mulai mengalami perubahan struktur arus modal masuk, dimana Direct Investment meningkat pesat dibanding Portfolio Investment.

 

Source : IIF June 2011

 

Namun, masih ada kemungkinan Indonesia terkena dampak dari Krisis Utang Eropa, melalui dua jalur : jalur financial dan jalur perdagangan. Dampak- dampak tersebut adalah :

  1. 1.   Ancaman ‘Roubini’

 

Kondisi Tiongkok yang terlihat baik-baik saja temyata juga bisa menjadi ancaman baru bagi perekonomian nasional. Dengan peluang terjadi yang cukup besar, jika China terkena dampak dari krisis Eropa, Indonesia harus lebih berhati-hati dalam mencegah dampak krisis global melalui China.

 

  1. 2.   Dari sektor moneter dan keuangan

Terjadi kekeringan likuiditas di pasar dunia dan potensi reversal di pasar saham dan SBN, menyebabkan investor di pasar modal Emerging Market menarik dananya secara tiba-tiba, menimbulkan arus modal keluar yang besar dan tak terduga, sehingga menekan nilai tukar mata uang suatu negara dan pelemahan cadangan devisa. Hal ini telah terjadi di Indonesia di September 2011.

Arus modal masuk yang deras masih tetap sangat mungkin, apalagi rating Indonesia sudah satu level dibawah level investment grade, dan bahkan banyak investor yang sudah menganggap Indonesia telah termasuk ke dalam Investment Grade Level.

  1. 3.   Sektor Riel

Permintaan negara yang terkena dampak krisis merosot tajam, ekspor Emerging Market menanggung imbasnya. Indonesia mulai merasakan itu saat ini, dengan belum masuknya order kepada pengusaha-pengusaha barang ekspor, padahal secara normal seharusnya order unruk tahun depan sudah diterima saat ini.

 

  1. 4.   PDB

 

  1. PBD berpotensi turun
  2. Kemungkinan sumber-sumber PBD, seperti konsumsi (C), investasi(I), eksport(X), dan import (M) turun dengan skala tertentu
  3. Kemungkinan terburuk dapat mengganggu sektor manufaktur domestik

 

  1. 5.   Inflasi

 

Inflasi kemungkinan turun sebagai akibat dari konsumsi domestik yang menurun dan imported inflation yang turun. Kondisi di Indonesia sampai saat ini CPI masih dapat terkontrol dengan baik. Core inflation sedikit meningkat, terutama karena rupiah sedikit terapresiasi dan peningkatan harga pangan dunia. Selain itu, hampir tidak ada dampak dari administered prices, karna Pemerintah tidak menaikkan harga barang-barang strategis, seperti BBM dan Kereta Api. Namun, terlihat ancaman dari kenaikan beras dan ketidakpastian kebijakan subsidi BBM yang harus terus dicermati

 

Source : BPS

 

  1. 6.   Sektoral Eksternal

 

  1. Penanaman Modal Asing (PMA) berkurang
  2. Apresiasi nilai tukar diserati dengan volatiliats yang tinggi

Namun sampai saat ini, rupiah telah melemah sejak Oktober 2011 akibat krisis Eropa. Krisis Eropa membuat para investor ingin lebih mengamankan investasi portofolio mereka. Selain itu berbagai isu lain yang mengancam termasuk isu politik, bahkan isu baru bahwa Jerman menginginkan salah satu negara (Yunani) untuk exit, atau pembubaran Euro yang berdampak pada penguatan dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus melemahkan rupiah. Persis seperti perkiraan sebelumnya apresiasi rupiah akan terjadi dengan laju apresiasi semakin terbatas akibat faktor resiko gagal bayar yang terus meningkat. Penguatan rupiah disertai dengan pengurangan volatilitas.

 

Source : IIF June 2011

 

  1. 4.   Prospek Perekonomian Kedepan terkait dengan Krisis US dan Eropa

Emerging Market memiliki ruang gerak yang lebih leluasa dibandingkan Developed Countries. Hal ini dibuktikan oleh :

  • Index Fleksibilitas Kebijakan (Policy Flexibility Index) menunjukkan bahwa cukup banyak kebijakan yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak resesi dan mempercepat kebangkitan ekonomi memlaui penyesuaian nilai tukarnya.
  • HSBC menggunakan proprietary indices yang menunjukkan bahwa secara umum, Emerging Market lebih kuat dan resilient dibanding tahun 2008 dan memilki fleksibilitas lebih tinggi untuk memerangi penurunan kegiatan ekonomi. Dalam hal ini, China, Indonesia, Brazil, Philippines, Taiwan, dan Korea tergolong lebih baik posisinya untuk menahan serangan, seperti tipe krisis 2008. Sedangkan Venezuela, Turkey, dan Egypt agak rawan dan Hungary diprediksi akan lebih kuat posisisnya dibanding pada krisis 2008.

Namun, tetap ada kekuatiran karena secara menyeluruh data makro dunia semakin memburuk, termasuk Indonesia, meskipun relative lebih baik dibanding negara-negara lainnya dengan pasar keuangan yang extremely volatile dan kemungkinan besar “permarisk”.

Ada 4 langkah untuk menganalisa tingkat kerawanan Emerging Market dalam menghindari Krisis Utang Eropa disbanding krisis 2008 :

  1. Menganalisa dalamnya dan panjangnya resesi ekonomi akibat krisis 2008
  2. Memakai Enhanced Vulnerability Index untuk mengidentfikasi negara-negara yang lebih kuat maupun lebih lemah.
  3. Melakukan review terhadap policy responses 2008
  4. Menggunakan Enhanced Policy Flexibility Index  untuk mengidentfikasi “policy firepower”.

Dari hasil identifikasi ternyata, pada krisis 2008, kebanyakan emerging market tidak mampu sepenuhnya melepaskan (fully decouple) keterkaitan dengan negara maju  di Barat, terutama karena hubungan keuangan dan ekonomi yang sangat berat, maka asset Emerging Market menderita penularan (contagion) dari penurunan valuasi asset di negara maju. Namun, dari semua emerging markets yang terkena dampak resesi, ada sebagian negara-negara yang cepat pulih dan bangkit kembali. Maka telah dilakukan kualifikasi performa emerging markets berdasarkan :

  1. Jumlah kuartal terjadinya kontraksi perekonomian berdasarkan seasonally adjusted terms
  2. Lamanya kegiatan ekonomi pulih kembali ke tingkat pre-crisis
  3. Cepatnya gejolak ekonomi mengikuti US dan Europe

 

 

Dari hasil kualifikasi tersebut, terdapat 3 cluster di Emerging Markets.

  1. Cluster pertama (First Cluster), adalah negara-negara yang tidak merasakan resesi sama sekali, yakni India, China, Indonesia, dan Vietnam.
  2. Cluster kedua (Second Cluster), adalah negara yang membutuhkan satu atau dua tahun untuk kembali ke tingkat GDP pre-crisis, dengan penurunan kegiatan ekonomi sekitar 2-4 kwartal. Negara-negara yang termasuk didalanya adalah Brazil, Chile, Malaysia, Poland, dan Korea
  3. Cluster ketiga (Third Cluster) adalah negara-negara yang mengikuti gelombang krisis seperti US, dan negara Euro-Zone lainny, yang sampai saat ini belum mencapai GDP pre-crisis, yakni Rusia, the Czech Republic, Hungary, Turkey, Mexico, dan Venezuela.

 

  1. 5.   Implikasi Kebijakan dalam Pencegahan Dampak Krisis

 

Meskipun Indonesia termasuk dalam cluster pertama yang tidak terpengaruh krisis dalam proporsi yang tidak signifikan, Indonesia perlu mempersiapkan diri dalam menahan dampak yang kurang baik akibat krisis Eropa terhadap pereonomian nasional dengan cara.

 

  • Menjaga kestabilan harga untuk mendukung kestabilan makro ekonomi secara menyeluruh harus dilengkapi dengan stabilitas sistem keuangan
  • Formulasi kebijakan moneter harus mempertimbangkan peran dan dinamika sistem  keuangan, terutama terkait dengan procyclicality dan price stability risk.
  • Beberapa indikator harga asset seperti harga saham dan harga property, perlu diperlengkapi dengan data terkini dan dimasukkan dalam perhitungan.
  • Mendorong pasar dalam negeri supaya bisa tumbuh lebih cepat
  • Introduksi regulasi untuk menghindari bubbles merupakan necessity, bahkan merupakan kewajiban.
  • Perlu melakukan review pengelolaan arus modal
  • Perlu divesifikasi usaha, ekspor, dan perbaikan infrastruktur secara menyeluruh- baik fisik maupun non fisik, termasuk kepastian hukum-.

 

 

 

 

  1. 6.   Kesimpulan

Sejauh ini, Indonesia masih dalam keadaan yang aman dan baik. Dari vulnerability index yang dikembangkan oleh HSBC, terlihat bahwa Indonesia most likely akan tetap bertahan, meskipun krisis Eropa akan berakhir dengan krisis global lanjutan. Namun, data juga menunjukkan bahwa pertumbuhan GDP Indonesia menjadi lebih rendah dari target akibat terkena dampak dari krisis global, maka sangat perlu dilakukan kebijakan-kebijakan pencegahan krisis seperti telah dibahas sebelumnya.

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: