We are in a new era of international trade: Jose Antonio Ocampo

Priatama Arifin

1006702790

sumber: http://articles.economictimes.indiatimes.com/2012-10-22/news/34653824_1_world-exports-export-basket-jose-antonio-ocampo

Artikel ini membahas tentang bagaimana pada pertengahan akhir abad ke 20, banyak negara berkembang yang dapat memajukan ekonominya melalui peningkatan eksport secara besar-besaran seperti Jepeng dan Singapore. Namun menurut Jose Antonio Ocampo, seorang Profesor di Columbia University, strategi ini sudah tidak dapat dipakai lagi. Hal ini dikarenakan perdagangan internasional telah mengalami masalah akibat krisis global tahun 2008-2009.

Akibat krisis global tersebut, pertumbuhan ekspor dunia turun menjadi 2,7% pada 5 tahun terakhir ini. Dan Ocampa serta beberapa ekonom lain seperti pemenang Nobel Joseph Stiglitz memperkirakan angka pertumbuhan ekspor hanya akan naik menjadi 3 sampai 4% di tahun-tahun mendatang. Menurut Ocampo salah satu penyebab menurunnya pertumbuhan ekspor adalah kecendurungan untuk negara maju untuk memindahkan lagi pabrik manufakturnya dari negara berkembang ke dalam negeri lagi agar konsumsi bisa lebih dekat dengan produksi.

Lalu untuk mengatasi hilangnya strategi ekspor untuk mendorong pertumbuhan, Okampo menyarankan negera berkembang untuk memperbesar pasar domestik mereka agar konsumsi dalam negeri dapat menggantikan turunnya jumlah ekspor.

Jika kita melihat Indonesia, lebih dari 50% GDP kita berasal dari konsumsi domestik.. Jadi tidaklah emngherankan jika INdonesia tetap dapat tumbuh diatas 6% selama krisis global. Namun angkat konsumsi domestik ini dapat dikatakan terlalu besar. Jadi jika Indonesia dapat mengurangi kontribusi konsumsi domestik terhadap GDP dan meningkatkan angka ekspor sampai ke level yang setara dengan negara berkembang lain, maka Indonesia dapat bertumbuh dengan lebih cepat lagi.

6 thoughts on “We are in a new era of international trade: Jose Antonio Ocampo

  1. raishanurulzahra says:

    Hai Afin, Indonesia memang bisa bertahan dari krisis global 2008 karena pasar domestiknya yang besar. Tapi boleh minta dijelasin ga kenapa Indonesia harus mengurangi kontribusi konsumsi domestik terhadap GDP? Bagaimana proses dari berkurangnya konsumsi domestik, tumbuhnya ekspor sampai dengan Indonesia dapat tumbuh dengan lebih cepat lagi? Thanks

  2. Riyan hidayat says:

    wah artikel ini sedikit bersebarangan dengan papernya pak catib ya yg “managing openness”. Pak chatib tetap menyarankan bahwa ekpor masih bisa diandalkan untuk mendongkrak GDP sementara Jose Antonio Ocampo mengatakan negara tidak bisa memakai strategi itu lagi.
    tapi menurut gw untuk negara berkembang yang ekspornya belum maksimal, negara itu tetap bisa kok mengandalkan ekspor, asalkan seperti pak chatib bilang, negara perlu lakukan diversifikasi ekspor. mungkin pernyataan Jose Antonio Ocampo itu lebih cocok untuk kasus negara maju kali ya dimana ekspornya sudah diversifikasi juga jadi tidak bisa memaksimalkan ekspor lagi dan ga bisa mengandalkan ekspor lg saat terjadi krisis seperti skrng ini

    • raishanurulzahra says:

      Dari yang saya baca, kayanya maksud dari Jose Antonio Ocampo adalah untuk respon dari kecenderungan negara maju untuk memindahkan lagi pabrik manufakturnya dari negara berkembang ke dalam negeri lagi. Jadi karena negara maju memindahkan pabrik manufakturnya, mau ga mau pertumbuhan ekspor dunia menurun, nah untuk merespon kejadian itu jadi negara berkembang bisa memperbesar pasar domestik. Tapi karena kasus krisis global aja kayanya. Jadi kalau nanti pertumbuhan ekspor dunia meningkat lagi, berarti perluas ekspor lebih baik. itu menurut saya ya🙂

  3. Sebenarnya sih bukan mengurangi kontribusi konsumsi domestik secara langsung, tapi dengan menaikan kontribusi ekspor terhadap GDP sehingga kontribusi konsumsi domestik terhadap GDP secara tidak langsung akan berkurang. Karena pasar domestik Indonesia walaupun besar tetap memiliki daya beli yang terbatas jadi kita tidak dapat mengandalkan pasar domestik untuk menyerap semya barang hasil produksi.

    Jadi jika kita bisa mengekspor barang produksi kita, Indonesia dapat memasuki pasar yang memiliki daya serap barang yang jauh lebih besar sehingga ruang tumbuh Indonesia akan menjadi jauh lebih besar. Secara otomatis dengan asumsi ceteris paribus, jika kita bisa menaikan nilai ekspor maka GDP INdonesia akan bertambah yang dapat diharapkan bisa menaikan tingkat kesejahteraan rakya INdonesia dari semua lapisan.

    • raishanurulzahra says:

      Oke got it. Thanks. Tapi seandainya ekspor Indonesia udah meningkat, terus ibarat kata ada krisis global lagi😀 kira-kira gimana ya perekonomian Indonesia harus menghadapinya?

      • asfiyape says:

        mau ngasih pendapat aja sih, Sha😀 hmm…kalo menurut ku, jika ekspor Indonesia super tinggi kan berarti scale-openness kita gede tuh. Sekalinya krisis dunia, bakalan keguncang bgt pasar komoditas Indonesia. Ya jadi itu dia saran Pak Chatib di jurnalnya, kita harus tetep jaga independensi ekonomi Indonesia, maksudnya dengan mendorong perekonomian domestik. Nah, kalau ada apa2 diluar sana, kan itu bisa jadi ‘pager’, minimal untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Ya gak? #IMO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: