Panglaykim Memorial Dialogue 2012 (Unleashing Creative Power of Indonesia for Better Future)

Oleh : Blenda Wijoyo

1006771320

            Beberapa bulan yang lalu saya mendatangi sebuah acara yang diadakan Panglaykim Memorial Dialog 2012 dengan mengangkat tema “Unleashing Creative Power of Indonesia for Better Future”. Awalnya, saya berfikir bahwa acara ini hanya acara dialog biasa yang salah satu pembicaranya adalah Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sekaligus dosen saya di kelas Ekonomi Internasional Lanjutan. Namun ternyata setelah sampai di tempat, saya cukup kaget bahwa John Howkins (The Father of Creative Economy) juga merupakan pembicara dalam acara ini. Selain itu, orang-orang yang datang ke acara tersebut tidak hanya mahasiswa, tetapi akademisi, pebisnis, dan policy makers juga turut datang dalam acara tersebut.

Dialog ini mengangkat tema “Unleashing Creative Power of Indonesia for Better Future” dengan tujuan mengajak masyarakat Indonesia untuk turut berpartisipasI dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Istilah ekonomi kreatif ini pertama kali diperkenalkan oleh John Howkins yang merupakan tokoh terkemuka dalam pengembangan ekonomi kreatif sekaligus penulis buku best seller yang berjudul “The Creative Economy: How People Make The Money From Ideas”. Dalam bukunya, dijelaskan bahwa Ekonomi Kreatif adalah analisis komprehensif mengenai ekonomi baru berdasarkan creative people, creative industry, dan creative city. Melalui dialog ini diharapkan masyarakat Indonesia tidak perlu takut untuk membuat bisnis ekonomi kreatif.

Dalam dialog ini John Howkins mengatakan, “Ekonomi kreatif tidak memerlukan modal besar, banyak perusahaan menggunakan Facebook untuk memasarkan jasa dan produk mereka”. John Howkins memberikan contoh ada perusahaan game yang memulai dari nol untuk mengembangkan usahanya melalui Facebook. Hanya dalam 2 tahun, nilai perusahaannya menjadi jutaan dolar. Beliau juga menekankan bahwa yang terpenting dalam mengembangkan kreativitas umum adalah memahami proses value chain. Dengan memahami proses value chain, suatu ide kreatif bisa disampaikan ke calon investor. Selain itu, Bu Mari juga mengatakan bahwa ekonomi kreatif adalah sebuah proses memberikan nilai tambah terhadap sesuatu yang sudah ada dan menjadikannya berkesinambungan. Contohnya adalah kain songket Palembang yang sekarang ini banyak dipadukan dengan batik.

Jika kita mengamati perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia, sejak tahun 2007, perkembangan ekonomi kreatif Indonesia telah mengalami proses yang signifikan, dimulai dengan berkembangnya inovasi dalam penjualan batik dan budaya lainnya. Sementara itu di tahun 2011, output yang dihasilkan oleh ekonomi kreatif berkembang menjadi 15 sektor seperti culinary, fashion, craft, performing arts, dan architecture yang menghasilkan sekitar Rp 526 triliun atau 7,08% dari PDB Indonesia. Sejauh ini pemerintah Indonesia telah menargetkan pertumbuhan ekonomi kreatif sebesar 8% di tahun 2015. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah juga telah berhasil menyusun Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 yang dapat menjadi pedoman dalam pembuatan kebijakan antarsektor pemerintah sekaligus menjadi rujukan utama bagi semua stakeholders Ekonomi Kreatif Indonesia. Selain itu juga sangat diperlukan partisipasi dari berbagai pihak seperti penyediaan fasilitas yang kondusif untuk mendorong perkembangan ekonomi kreatif.

Bu Mari juga menjelaskan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif diperlukan dukungan dari Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia untuk mendokumentasikan karya kreatif lokal dan kekayaan budaya di daerah masing-masing. Hal ini sangat penting sebagai salah satu dasar dan titik awal pengembangan ekonomi kreatif dan melindungi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Indonesia sendiri sebenarnya telah memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Terbukti dengan adanya berbagai keunggulan mulai dari aspek kekayaan budaya, konsumsi dalam negeri yang tinggi, dan jumlah kaum muda kreatif yang banyak. “Dalam 10 tahun dari sekarang saya berharap Indonesia memiliki i-Pop bisa berupa musik dangdut atau keroncong, fashion designer kita bisa memajang hasil karyanya di New York, dan film-film produksi Indonesia menjadi mendunia,” demikian harapan Bu Mari.

IMG_2616

Beberapa foto dari pameran unik di PPKI

References

1. Puskompublik. 2012. Kunci Pengembangan Ekonomi Kreatif Ada di Pemerintah Daerah. Jakarta: Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (http://www.budpar.go.id/budpar/asp/detil.asp?c=16&id=2015)

2. Tim PPKI. 2012. Creative Dialog Interaktif. Jakarta: PPKI (http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/news/read/ppki-2012-siaran-pers-creative-dialog-interaktif)

 

 

5 thoughts on “Panglaykim Memorial Dialogue 2012 (Unleashing Creative Power of Indonesia for Better Future)

  1. tasyashabrina says:

    Sebenernya kurang mengerti dengan term ekonomi kreatif atau industri kreatif. Apa bedanya industri kreatif dengan industri industri yang lain? Apakah industri garam berwarna pink dapat disebut sebagain industri kreatif? Apa yang menyebabkan industri kreatif ini menempati sebuah posisi spesial sehingga dibuat kementrian sendiri? Mengapa tidak dibuat kementrian ekonomi industri saja? Dan menurut saya industri kreatif di Indonesia contohnya seperti yang dibilang Bu Mari, batik atau songket, kebanyakan merupakan hasil dari usaha kecil dan menengah. Bagaimana membedakan mana yang merupakan bagiannya kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif dengan mana bagiannya kementrian koperasi dan usaha kecil dan menengah?
    Tasya Shabrina Yusira 1006690216

    • blendawijoyo says:

      Hai tas, sebelumnya karena saya bukan pakar ekonomi kreatif, jadi maaf ya kalau ada jawaban yang salah hehe
      1. untuk perbedaan ekonomi kreatif dan industri kreatif coba cek link ini deh (http://indonesiakreatif.net/index.php/id/page/read/definisi-ekonomi-kreatif). di situ dijelasin banget apa bedanya😀
      2. mengenai industri garam yang berwarna pink, bisa termasuk industri kreatif karena merupakan salah satu inovasi untuk meningkatkan permintaan garam. tapi menurut saya, tidak mungkin kalau industri garam melakukan inovasi tersebut, toh permintaannya akan tetap tinggi hehe
      3. industri kreatif ini dibuat untuk meningkatkan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Menurut saya, untuk meningkatkan kreativitas setiap individu apalagi di Indonesia termasuk hal yang sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, dibutuhkan peran pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk menciptakan fasilitas yang kondusif yang mendukung perkembangan ekonomi kreatif dan meningkatkan perlindungan HAKI.
      Selain itu, hasil dari output ekonomi kreatif memberikan proporsi yang cukup besar terhadap GDP Indonesia. Jadi, tidak ada salahnya kan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia😀
      4. Yap benar batik atau songket juga merupakan bagian dari UKM. Menurut saya, hal yang membedakan adalah kreativitas yang dihasilkan dari industri tersebut. Kalau perusahaan tersebut didirikan atas hasil kreativitas seseorang maka itu termasuk dalam industri kreatif. Untuk lebih lanjut, mungkin perlu koordinasi dari Kementrian Koperasi dan UKM dan Kemenparekraf dalam meningkatkan pertumbuhan ukm yang kreatif.

  2. hiralaraya says:

    halo Tasya! mau coba jawab dikit2 dari berbagai sumber.

    Menurut Sugiarto (2012), Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Jadi, bisa dikatakan basis ekonomi kreatif adalah ide.

    Selanjutnya, pemerintah telah mengidentifikasi lingkup industri kreatif mencakup 14 subsektor, antara lain, industri perangkat lunak (software), pasar barang seni, industri kerajinan, fesyen, advertising, desain, animasi, film, video dan fotografi, musik, serta permainan interaktif (Oetama, 2009).

    Kenapa sih perlu mengembangkan industri kreatif bahkan dibuat kementriannya tersendiri? Karena kontribusi terhadap perekonomian relatif besar. Rata-rata kontribusi PDB industri kreatif Indonesia tahun 2002-2006 sebesar 6,3 persen dari total PDB Nasional dengan nilai Rp 104,6 triliun. Nilai ekspor industri kreatif mencapai Rp 81,4 triliun dan berkontribusi sebesar 9,13 persen terhadap total nilai ekspor nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,4 juta pekerja (Oetama, 2009). Fakta lain, pada tahun 1996, ekspor karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan sebesar 60,18 miliar dollar AS jauh melampaui ekspor sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat (Sugiarto, 2012)
    Industri ekonomi kreatif yang berbasis ide ini berarti inputnya berasal dari sumber daya manusia kan? sumber daya manusia ini sifatnya terbarukan. Kemudian, mengembangkan ekonomi kreatif berarti mengembangkan SDM untuk terus berinovasi yang pada gilirannya membawa perubahan positif secara sosial dan ekonomi.

    Untuk industri garam berwarna pink sebenarnya saya juga kurang yakin. Secara ide, bisa dikatakan ekonomi kreatif. Apalagi kalau hak cipta dari ide tersebut berhasil dijual sehingga tidak peduli dimanapun pabriknya, ada nilai yang kita terima.

    • blendawijoyo says:

      iya betul hir, mungkin selain meningkatkan industri yang berbasis kreativitas, pemerintah mendirikan Kemenparekraf dengan tujuan untuk meningkatkan labor skilled Indonesia yang juga sekaligus meningkatkan produk ekspor yang tidak berasal dari sumber daya alam. Sehingga nantinya, ketergantungan ekspor Indonesia terhadap ekspor migas pun berkurang dan berdampak positif pada perkembangan perdagangan internasional Indonesia. sesuai dengan teori transformasi perdagangan internasional yang menyatakan semakin sophisticated-nya suatu barang (adanya transformasi dari natural resources oriented menjadi science based intensive) maka suatu negara dikatakan semakin maju dan berhasil dalam meningkatkan kualitas ekspornya.

  3. asfiyape says:

    Mengutip dari link Portal Indonesia Kreatif diatas: “Dapat disimpulkan bahwa ekonomi kreatif dalam hubungannya dengan industri kreatif adalah kegiatan ekonomi yang mencakup industri dengan kreativitas sumber daya manusia sebagai aset utama untuk menciptakan nilai tambah ekonomi.”
    Jadi, saya sangat setuju dengan poin jawaban ke-4 Mbak Blenda yang bilang kalau koperasi adalah jalan bagi industri kreatif (dan atau kecil) untuk mengakses pertumbuhannya yang lebih baik. Dan untuk mencapai kemajuan perekonomian yang signifikan dan merata, sangat dibutuhkan gerakan yang sinergis antara Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat🙂
    Asfiya.P.E

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: