Constant Market Share Analysis Indonesia-China 2005-2010

Eka Pujiastuti, 1006662074

Image

Berdasarkan hasil perhitungan CSMA, produk ekspor Indonesia yang memiliki market share paling besar di China tahun 2005-2010 didominasi oleh produk-produk primer. Berdasarkan table.1 untuk produk yang memiliki market share paling tinggi adalah mineral fuels, oils & product of their distillation yaitu senilai $ 196,67 juta. Market share ini paling dipengaruhi oleh import Growth Effect di mana peningkatan ekspor Indonesia pada produk ini lebih banyak disebabkan karena memang sedang terjadi peningkatan permintaan barang impor di China. Secara keseluruhan Indonesia perlu mewaspadai tentang keadaan market share produk expornya ke China.

Produk ekspor Indonesia ke China yang memiliki market share paling besar adalah untuk barang-barang yang pengolahannya tidak membutuhkan teknologi tinggi dan cenderung masuk ke barang primer. Dapat dilihat dari tabel.1 produk seperti mineral fuels, pulp of wood dan paper adalah produk yang less technological intensive melainkan produk-produk resources based dan unskilled labor intensive. Hal ini patut diwaspadai karena permintaan produk-produk tersebut cenderung turun dari tahun ke tahun. Bila Indonesia tetap mengandalkan produk yang less technological intensive dan tidak melakukan aktivitas research and development yang baik, maka bisa jadi akan menjadi bom waktu pada neraca perdagangan indonesia di kemudian hari.

Masalah yang juga perlu diperhatikan adalah dari kelima produk ekspor indonesia yang memiliki market share paling besar di China dipengaruhi sangat signifikan oleh import growth effect atau faktor permintaan makro. Dapat dilihat bahwa import growth effect memiliki persentase pada CSMA lebih dari 100% di kelima produk dengan market share terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor yang besar dari Indonesia ke China bergantung pada besarnya permintaan, bukan dari kualitas dan daya saing produk yang ditunjukkan oleh competitive effect yang selalu negatif.  Produk indonesia yang sangat tergantung pada permintaan negara tujuan akan sangat rentan karena bila saja permintaan jatuh, maka ekspor indonesia juga akan jatuh. Pada saat itu Indonesia juga akan sulit untuk mencari tujuan ekspor baru karena daya saing produk Indonesia ternyata sangat lemah. Selain itu composition effect menunjukkan pengaruh perubahan market share China karena permintaan produk indonesia. Nilai yang sangat kecil pada kelima produk menandakan produk Indonesia ternyata tidak mendapat tempat yang baik di konsumen China. Mereka membeli produk Indonesia cenderung memang karena mereka sedang menyukai konsumsi jenis produk tertentu, namun tidak spesifik pada produk buatan Indonesia.

referensi:

wits.worldbank.org, diakses pada 4 Januari 2013

Merkies, A. H. Q. M, T. van der Meer. 1988. A Theoretical Foundation for Constant Market Share Analysis. empec. Vol. 13, 1988, page 65-80

Crespo, Nuno,  Maria Paula Fontoura.2010. What determines the export performance? A Comparative Analysis at The World Level. Working Papers School of Economics and Management Technical University of Lisbon, ISSN Nº 0874-4548

Tagged

3 thoughts on “Constant Market Share Analysis Indonesia-China 2005-2010

  1. mutiaraddini says:

    Very informative. I just happen to know that basically, Indonesia should be aware that there should be an improvement towards the quality and specialities of the commodities. Do you think that Specialization is one of the solution to improve this condition?

  2. faradinamaizar says:

    Halo Alam, saya mau memberikan pendapat tentang spesialisasi. Jurnal yang saya baca bukan tentang Indonesia, tetapi ada kaitannya dengan spesialisasi. Wai-Heng Loke, penulis jurnal, dalam tulisannya tentang perdagangan antara Malaysia dan Cina, Malaysia kehilangan comparative advantage (nilai RCA nya merosot) di sektor electrical and electronics equipment. Tapi keadaan ini dianggap tidak mengganggu perekonomian karena setelah melakukan perdagangan internasional Malaysia justru memiliki peningkatan nilai RCA di bidang wood, articles of wood, and wood of charcoal.

    Kesimpulan yang saya ambil dari jurnal ini adalah saat melakukan perdagangan internasional, spesialisasi dan peningkatan harus terus dilakukan agar suatu negara (misalnya Indonesia) dapat bertahan dengan memiliki comparative advantage. Dalam perdagangan internasional, kehilangan pangsa pasar dalam suatu sektor adalah hal yang wajar tetapi negara harus bisa menyerap pangsa pasar lain yang dikuasai oleh negara tersebut.

  3. pujiastutieka says:

    Sebetulnya sudut pandang saya menulis tugas ini didasari oleh paper yang ditulis Chatib Basri dan Sjamsu Raharja yaituManaging Openess-Should Indonesia Say Goodbye to Its Strategy of Facilitating Exports (2011). Indonesia lebih baik melakukan differensiasi baik produk maupun pasarnya. Bisa dilihat di CSM Analysis Indonesia dengan China, produk yang diekspor adalah ‘produk lama’ yang permintaannya terus menurun sehingga sebaiknya Indonesia mulai mencari produk baru dengan meningkatkan aktivitas R&D. produk baru yang dimaksud adalah produk-produk yang science based intensive yang bernilai tambah tinggi. Walaupun penting pula untuk meningkatkan kualitas ‘produk lama’ agar bisa bersaing di pasar global karena dapat dilhat bahwa compositition/commodity effect kita masih sangat kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: