Review Commanding Heights episode 1: The Battle of Idea

oleh Ravi Garibaldi Akbar (1006662143)

Commanding Heights

Pada tahun 2002, PBS menayangkan dokumenter Commanding Heights yang terdiri dari  tiga episode berdurasi enam jam. Tiga episode tersebut adalah: The Battle of Idea, The Agony of Reform, dan The New Rules of The Game. Dokumenter ini sendiri didasari oleh buku ‘The Commanding Heights: The Battle for the World Economy’ karya Daniel Yergin dan Joseph Stanislaw yang diterbitkan pada tahun 1998.

Tulisan ini hanya membahas tentang episode pertama. Sesuai judulnya, yaitu ‘The Battle of Idea’, sebagian besar episode pertama dari Commanding Heights ini didominasi oleh perseteruan antara dua ide sistem ekonomi. Mengutip Daniel Yergin, salah satu penulis buku ini yang menyatakan bahwa perdebatan antara market force atau state planning  telah menjadi inti dari perseteruan ilmu ekonomi selama hampir seratus tahun. Ide dari state planning oleh John Mayard Keynes adalah market economy akan menuju kegagalan (market failure) sehingga diperlukan intervensi dari pemerintah untuk mengoreksinya. Di sisi lain, Friederick von Hayek mempercayai bahwa pasar akan memperbaiki masalahnya sendiri dan intervensi dari pemerintah mengancam kebebasan dalam ekonomi pasar.

Keynes vs Hayek2

Diceritakan bahwa awalnya dunia sudah mengalami perekonomian global, namun adanya serangan teroris pada Austria memicu perang dunia. Akibat pecahnya Perang Dunia I, banyak Negara yang mulai mencari sistem ekonomi yang lebih baik dari kapitalisme, dan menggantinya dengan sosialisme dan komunisme. Kegagalan kapitalis ditandai dengan hyperinflation di Austria dan Jerman yang harus menanggung konsekuensi dari reparasi perang. Lain lagi di Amerika, dimana kegagalan kapitalisme mulai dirasakan dari adanya stock market bubble yang akhirnya meletus pada Black Thursday, 24 Oktober 1929, dan menyebabkan bank dan industri berhenti bekerja, yang akhirnya akhirnya menyebabkan The Great Depression.

Melihat prediksinya menjadi kenyataan, Keynes akhirnya menerbitkan ‘The General Theory’ yang menunjukkan bahwa pemerintah dapat mengatur perekonomiannya dengan meningkatkan government spending ketika resesi, dan mengurangi spending ketika boom. Perang Dunia membawa teori Keynes ke dalam fase implementasi berupa kebijakan pemerintah. Namun, ide Keynes ini ditantang oleh Hayek yang merasa bahwa terlalu banyak government planning akan memperkuat peranan pemerintah terhadap ekonomi dan mengekang kebebasan dari rakyatnya, hal ini dirangkum dalam bukunya yang popular, yaitu ‘The Road to Serfdom’.

Namun, sayangnya ide dari Hayek ini kalah pamor dengan Keynes, terbukti dengan rakyat Britania Raya yang lebih memilih sistem yang lebih sosialis oleh Partai Buruhnya dan mendominasi Partai Konservatif. Berbeda dengan German yang lalu menghancurkan sistem price control untuk memulihkan pasar dan menciptakan “social market economy” dimana pasar bebas bercampur dengan welfare state. Meskipun begitu, kesuksesan German tidak popular di Negara lainnya yang lebih menginginkan planned economy.

Setelah 30 tahun kemenangan Keynes, akhirnya perekonomian dunia mengalami masalah baru, yaitu pada 1970 ketika inflasi dan unemployment meningkat dalam waktu yang bersamaan, atau stagflasi. Disusul dengan kebijakan price control yang ternyata tidak memperbaiki keadaan. Keith Joseph lah akhirnya yang mulai menghidupkan kembali ide Hayek tentang free markets. Meskipun banyak pertentangan, pada akhirnya usaha Joseph disukseskan oleh Margaret Thatcher—wanita pertama yang memimpin Partai Konservatif, yang akhirnya terpilih menjadi Perdana Menetri Britania. Pada 1974, akhirnya Hayek mendapat Hadiah Novel, seakan menandai perubahan arah dari perseteruan ide ini. Mengikuti jejak Thatcher, di Amerika terpilih Ronald Reagan sebagai Presiden, yang juga sependapat dengan ide Hayek.

Thatcher dan Reagan yang meyakini pada kekuatan pasar menerapkan kebijakan dalam bentuk tax cuts, privatisasi dari BUMN, dan mengurangi government spending, yang secara umum memberikan kekuatan kepada pasar. Kesuksesan dari kedua figur ini pun diikuti berbagai Negara lainnya yang membawa pada episode kedua, ‘The Agony of Reform’ yang membahas tentang konsekuensi dari perubahan sistem ekonomi pada masing-masing Negara.

Hal menarik dari film ini adalah kontradiksi dari paham Hayek terhadap ide Keynes, dimana ia menganggap central planning sebagai langkah awal menuju totalitarian sementara Keynes sendiri mengajukan ide tersebut untuk mencegah demokrasi ditelan oleh paham totalitarian. Selain itu, menarik untuk melihat bahwa ilmu ekonomi tidak pernah lepas dari dunia politik, dimana ide-ide tersebut baru dapat diuji apabila ada politisi yang meyakininya seperti J. F. Kennedy, Margaret Thatcher, dan Ronald Reagan.

Selain itu, sedari awal film ini saya penasaran apa yang dimaksud dengan Commanding Heights, dan seiring narasi pun saya mendapat gambaran bahwa yang dimaksud dari Commanding Heights adalah sektor utama seperti listrik, telepon, migas, tambang, serta transportasi, yang kemudian diperdebatkan apakah sektor privat atau sektor publik yang lebih pantas dalam mengaturnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: