Tugas iseng: Non-Tariff Barriers

Maaf ya nyampah😀

Sambil mengerjakan tugas paper uas (baca: RCA dan CMSA), saya iseng-iseng baca appendix di trade profile-nya Filipina. Ternyata ada juga toh tabel yang menerangkan barang-barang apa saja yang dilarang masuk ke Filipina. Daannn, yang paling mengejutkan *mungkin karena hanya itu yang saya pedulikan*, Filipina melarang cacao, mangga, pisang, dan beras dari Indonesia. Cacao Indonesia dilarang masuk karena Swollen shoot (Virus complex), mangga dilarang karena Mango seed weevil, sedangkan pisang dan beras karena Virus diseases. Menjadi teringat kuliah inter dan interla tentang Non-tariff barrier, jadi inget pak lepi yang bawa-bawa kaleng tuna untuk menunjukkan eksportir  ikan kalengan harus ramah dengan lumba-lumba, jadi inget bu mari yang bilang sekarang barrier itu tergantung seberapa ‘pintar’ negara tersebut. Well, emang cuma cacao, mangga, pisang, dan beras sih, tapi, jika semua negara kaya gitu, Indonesia harus gimana.

Padahal, Filipina memang senang jika bisa melarang negara-negara untuk mengekspor beras ke Filipina. Lihat apa kata Filipina,

“The Philippines is one of a few countries that have benefitted from the Uruguay Round Agreement on Agriculture (AOA) special treatment clause (Annex 5), which has allowed it to maintain an import quota on rice, under certain conditions

Di Final Report of the High-Level Trade Experts Group dikatakan stimulus fiskal menurun sehingga tekanan dalam negeri  (*ingat anti-trade bias) untuk proteksi meningkat karena tingkat pengangguran yang tinggi. Disebutkan trade agreement meningkatkan alokasi sumber daya agar lebih produktif sehingga harga barang-barang tersebut turun dan hal ini disebut sebagai manfaat untuk mengkompensasi tingginya pengangguran tersebut. Saya kurang sependapat dengan ini. Turunnya harga tapi tidak diikuti dengan penurunan pendapatan tidak akan berdampak apapun. Selain itu, tengan murahnya barang impor tapi tinggi pengangguran (yang berarti rendahnya produksi) berakibat Indonesia akan menjadi pasar dimana semua penduduknya adalah konsumen. Ibarat kata, surplus produsen Indonesia diserap habis untuk meningkatkan surplus konsemen.

Sebenarnya ada untungnya juga, jika barang-barang yang dilarang adalah barang-barang raw material, Indonesia harus belajar untuk mengolah barang-barang tersebut agar lebih bernilai tambah. Walau dikatakan Indonesia berdaya saing di raw materials, dan menurut HO dan Ricardian Model, Indonesia cukup berdagang raw materials, masa iya Indonesia puas dengan itu, masa iya net present value dari welfare Indonesia itu paling besar ketika hanya mengekspor barang primary goods.  Lalu, pertanyaan berikutnya terkait topik hari ini, kapan ya Indonesia ‘pintar’ membuat NTB?

Tagged ,

One thought on “Tugas iseng: Non-Tariff Barriers

  1. Riset beras memang terlantar Mbak di Indonesia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: