real exchange rate Rp/USD dan Rp/Yen, yearly, 1990 – 2011

Dilihat dari tahun 1990 hingga 2012, real exchange rates rupiah baik dengan USD maupun Yen memiliki tren yang relatif sama. Seperti periode tahun 1990-1995, real exchange rates rupiah terhadap kedua mata uang tersebut relatif mengalami penguatan yang signifikan. Hal ini berkaitan dengan membaiknya perekonomian Indonesia pada periode tersebut. Indonesia memilki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang yang besar yaitu lebih dari 20 milyar dolar, dan sektor bank yang baik. Perekonomian yang baik menjaga real exchange rates tetap terjaga. Selain itu sebelum tahun 1997 masih ditetapkan fixed exchange rates sehingga nilai tukar dapat terjaga dengan baik. Pada tahun 1997 nilai tukar rupiah menganut rezim free floating exchange rates sehingga menyebabkan nilai tukar sangat rentan. Ditambah terjadi pula krisis di Thailand yang ternyata mempengaruhi Indonesia juga aktivitas spekulan yang membuat baik nominal maupun real exchange rates terus merosot hingga menyebabkan krisis ekonomi tahun 1998. Pasca krisis, ekonomi Indonesia membaik, diperlihatkan oleh real exchange rates yang terus menguat.  Akan tetapi kembali terdepresiasi saat krisis Amerika akibat kejadian 11 September 2001

Pada tahun 2008, terjadi krisis finansial global, walaupum dampaknya tidak begitu besar pada Indonesia, namun perekonomian Amerika Serikat sangat terpukul. Hal ini membuat real exchange rates rupiah cukup terdepresiasi pada USD walaupun dampaknya tidak sebesar krisis moneter tahun 1998. Depresiasi terjadi sebagai akibat dari menurunnya daya beli masyarakat Eropa dan Amerika dimana negara-negara pada wilayah tersebut sangat mempengaruhi perdagangan dunia. dengan menurunnya permintaan akan produk ekspor Indonesia, menurun pula supply akan valuta asing sehingga  nominal dan real exchange rates akhirnya terdepresiasi. Jepang juga yang terdampak krisis mengakibatkan hal yang sama pada real exchange rates Rupiah/yen.  Melemahnya real exchange rates seharusnya membuat barang dalan negeri relatif lebih murah sehingga permintaan domestik dan ekspor relatif akan naik. Akan tetapi ekspor malah cenderung turun sehingga membuat neraca perdagangan Indonesia defisit. Untungnya permintaan domestik yang sangat besar mampu mengimbangi hal tersbut sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tinggi

Referensi

Chinn,Menzie D. Real Exchange Rates, National Bureau of Economic Research.2011

Mishkin, Frederic S. The Economics of Money, Banking, and Financial Markets 7 th ed.. San Francisco:Pearson  Addison-Wesley. 2004

Mukhlis, Imam. Analisis Volatilitas Nilai Tukar Mata Uang Rupiah Terhadap Dolar. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.2012

USDA.Real Monthly Country Exchange Rates.2012. http://www.ers.usda.gov

 

Eka Pujiastuti

1006662074

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: