Ekspor Pertanian dan Ekspor Manufaktur Indonesia 1975-1990

Nama: Venty

NPM: 0906521663

no.urut: 03

Grafik Total Ekspor Pertanian dan Manufaktur Indonesia, yearly, Tahun 1975-1990 (US$)
Sumber: worldbank, diolah

Hingga tahun 1979 ekspor pertanian masih terus meningkat walau sebenarnya sudah sangat turun dari masa 1965-1973. Hal ini dikarenakan, antara awal 1970 sampai pertengahan 1980, pemerintah memberikan pajak dan melarang traditional exports (Fane&Warr, 2007), menerapkan teknologi revolusi hijau berupa program intensifikasi beras (FAO, 2003 dan Fane&Warr, 2007), dan membangun industri manufaktur dengan import substitution (Fane&Warr, 2007). Kebijakan teknologi revolusi hijau di sektor pertanian ini sangat terfokus pada beras, komoditas yang tidak berperan dalam ekspor. Akibatnya, komoditas ekspor dari sektor pertanian terabaikan (FAO, 2003).  Diawal pertengahan 1980, kondisi ekspor pertanian yang sudah menurun diperburuk dengan pemberlakukan sistem lisence untuk ekspor minyak sayur, rempah-rempah, kopi, dan karet. Ditambah dengan melakukan pajak ekspor untuk minyak kelapa sawit (Fane dan Warr, 2007)  yang secara otomatis semakin melemahkan ekspor pertanian Indonesia. Hingga tahun ini, ekspor manufaktur masih stabil di 15juta rupiah, belum ada dampak pembangunan ekspor industri manufaktur dengan import substitution yang sudah dilakukan sejak awal 1970. Sejak turunnya harga minyak di tahun 1982, kebijakan import substitution diragukan sebagai kebijakan yang tepat (Ishida, 2003). Peningkatan ekspor manufaktur baru terasa setelah 1982, terutama manufaktur yang menggunakan tenaga kerja secara intensif (labour-intensive manufactures) (Fujita&James, 1997). Peningkatan ekspor manufaktur ini disebabkan oleh promosi ekspor (export orientation). Menurut Tarigan dan Salimah (2006), kebijakan yang sangat pro terhadap sektor manufaktur dan bukan ke agroindustri menyebabkan investasi yang ada hanya mendorong sektor manufaktur dan mengkorbankan sektor pertanian.

Tahun 1975 sampai 1990 ini Indonesia berada di rezim Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto sehingga kebijakan yang diambil sangatlah sentralistik, otoriter, dan fokus pada pembangunan –bukan pemerataan. Secara umum, ada 2 kebijakan yang menjelaskan penurunan ekspor pertanian dan peningkatan ekspor manufaktur, yaitu impor substitusi dan promosi ekspor.

Daftar Pustaka

ESA. “Policy Module.” Roles of Agriculture Project International Conference. Rome: FOA, 2003. 5-7.

Fane, George and Peter Warr. Distortions to Agricultural Incentives in Indonesia. Working Paper, Australia: Australian National University, 2007.

Fujita, Natsuki & William E. James. “Employment Creation and Manufactured Exports in Indonesia, 1980–90.” Bulletin of Indonesian Economic Studies, 1997: 103-115.

Ishida, Masami. Industrialitation in Indonesia since the 1970s. Research Paper, Japan: Institute of Developing Economics, 2003.

Tarigan, Kelin ,Prof,MS & Salimah. Universitas Sumatera Utara OpenCourseWare. 2006. http://ocw.usu.ac.id/course/download/312-EKONOMI-PERTANIAN/sep_203_handout_peran_pertanian_di_indonesia.pdf (diakses November 2012).

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: