Di mana bisa dapat data ekonomi?

Hallo,

Lama sekali tidak mengunjungi blog ini. Setelah bertahun-tahun, saya pikir blog ini sepi pengunjung. Namun, ketika iseng buka statistiknya beberapa minggu lalu saya kaget sekali ternyata blog ini banyak sekali pengunjungnya, dan setiap hari!

 

Setelah diperhatikan ternyata banyak pengunjung blog yang mencari data ekonomi Indonesia, bagaimana menghitung RCA, maupun komparasi perekonomian Indonesia dengan negara-negara tertentu seperti Singapura, Amerika Serikat dsb.

 

Kadang-kadang saya masih juga terima email atau komentar dari pengunjung blog ini yang menanyakan bagaimana mendapatkan data yang digunakan oleh para mahasiswa di kelas ini. Mendapatkan data ekonomi yang umum seperti GDP, Ekspor, Impor, dll untuk periode yang tidak terlalu lampau sebenarnya mudah. Namun, memang kalau belum tau dan belum biasa jadi susah. Maka dari itu, ketika Ibu Mari, Mas Yose dan saya mengajar kelas ini, dengan penuh semangat ’45 kami memberi tugas mahasiswa untuk bermain dengan data.

 

Kelas ini adalah sekuen kedua dari konsentrasi Ekonomi Internasional di FEUI. Jadi mahasiswa pada umumnya sudah tingkat ke-3, dan di tingkat ke-4 akan ambil kelas Seminar untuk mengeksplorasi ide skripsi. Kami merasa banyak mahasiswa “kaget” ketika memulai menyusun skripsi. Kaget dengan dinamika penelitian, termasuk mencari data, menyiapkan data, membacanya, mencari intuisi dari angka-angka, hingga menceritakannya dengan baik. Kami menyadari hal ini butuh jam terbang, jadi¬†the earlier the students to get exposure to the “dirty” work with data, the better ūüôā

Oleh karena itu, berikut saya rangkun sumber-sumber data ekonomi yang bisa menjadi referensi teman-teman para mahasiswa, khususnya mahasiswa S1 yang mulai berkenalan dengan data, maupun yang sedang kejar tayang mesti sidang segera (hehhehe). Saya tuliskan dalam bahasa inggris karena awalnya ada di website pribadi saya (Silahkan berkunjung juga ke website saya. Saya usahakan diperbaharui berkala: https://sites.google.com/site/rizkisiregar/)

 

Semoga bermanfaat!

 

Salam,

Rizki Nauli Siregar

 

PS: Di masa membuat skripsi dulu, pembimbing saya Bapak M. Chatib Basri bilang: Remember Kiki, the devil is in the detail! Beliau menyampaikan itu waktu saya lapor progress soal data dan regresi memang. Selain itu, saya ngga lupa sampai sekarang, I had to propose at least 3 times to him until he said : this is what we call research proposal, Kiki. Dan sebelum bisa mencapai itu, he once said (to teary eyes me hahaha): Jangan putus asa ya! Sejak saat itu saya memahami bahwa riset bukan cuma menjawab ide atau pertanyaan besar dan keren, tapi juga bagaimana menterjemahkannya dalam hal-hal yang dapat dan mungkin dilakukan. Jadi untuk adik-adik yang sedang galau: Jangan putus asa! ūüôā

 

 

=========

from: https://sites.google.com/site/rizkisiregar/resources/database

This list is predominantly made for students (especially undergraduate students) of economics who may want to learn how to play around with economic data or those who may be in the stage of writing undergraduate thesis. The list maybe also useful for early stage researchers in economics and public policy.

I add a special section on Indonesian data as I found how little knowledge on Indonesian economy that people in general have despite how large (4th biggest population in the world, one of the biggest democracy, one out of very few that was able to maintain positive economic growth in the peak of 2008 crisis, second biggest rain forest stock, etc) and potential the country actually is.

So, here are some economic databases that may be of your interest:

Data on International Trade:

This database includes export and import data and tariff data. You can choose which source and destination countries you want. You can also choose which product-level aggregation you want, both in HS and SITC. The link above is directed to the one that allows you to do advanced query (which I like). You may need to register first to get the access. But it’s super fast and you only need to register once. For a simpler version with data visualization tool, please refer to¬†here.

This database provides trade data in tables, graphs, and maps. So it’s very useful to make some infographics. The goods classification is (I believe) in HS classification, so not SITC.

This database include a more summarized data usually, but has some specific data like Global Value Chains data (linked to the OECD Trade in Value Added data), trade in services, and Non-Tariff Measures data, etc. You may want to check out its country profiles as well to get compact and comprehensive overview of any WTO member trade performance and trade policy.

Finally a world input-output matrix that can allow one to see trade flows in terms of value-added!

 
Data on General Economic Measures
 
This database gives you various kinds of real GDP series across countries overtime. You can use different measurement of real GDP that is consistent for different purposes such as when you want to compare living standard across countries overtime or instead productive capacity across countries overtime.

You name it! All kinds of measures of development.

A measure of development, incorporating several welfare indicators, across countries. Constructed by UNDP.

This database nests WDI, education statistics, gender statistics, health nutrition and population statistics, etc.

Economic History Database

This database gives you cross-country comparison of income per capita over a long time horizon (very very long, for some country or area, dated back in year 1).

This database provides main macroeconomics measures for 17 advanced countries, in annual series from 1870. If you use stata, you can also directly open the data by just using this command (need internet connection): use http://macrohistory.net/JST/JSTdatasetR2.dta

Macroeconomic measures such as nominal and real GDP, exports, imports, exchange rates, interest rates, government revenues, government expenditure, public debt, asset prices including house prices and stock prices, to even crises dates. Check out the link for complete list and description.

 

Data on Indonesian Economy
 

Krisis Utang Eropa dan Perekonomian (gambar dan grafiknya tidak dapat diakses di blog ini sepertinya)

Krisis Utang Eropa dan Perekonomian Indonesia

Frida Yanti Putri Nababan

1006689952

 

  1. 1.   Krisis Utang Eropa

Krisis utang di Eropa pertama kali dipicu oleh pertumbuhan kredit yang sangat pesat dalam jangka waktu yang relatif panjang sebagai akibat dari.

  1. a.    Penyebab lokal

Perilaku tidak bertanggung jawab dari pemerintah dan individual di beberapa Negara Euro Zone (EZ), terutama Yunani, Portugal, Irlandia, dan sampai batas tertentu juga Spanyol dan Portugal. Dan terakhir ini ada masalah baru pemicu krisis yang lebih besar lagi akibat krisis di Italia.

Defisit anggaran dan utang negara yang sangat besar pada krisis 2008-2009, langsung menghilangkan kepercayaan investor terhadap solvabilitas negara-negara tersebut, sehingga obligasi negara-negara tersebut ‚Äėkurang‚Äô berharga lagi mata investor, hal tersebut memicu terjadinya krisis.

Indikator terjadinya krisis yang diakibatkan penyebab lokal adalah defisit anggaran dan utang pemerintah. Data hingga saat ini, Yunani (-5.4%), Portugal (3.7%), Spanyol (0.3 %), dan Irlandia (1.5%)

  1. b.    Penyebab sistemik

Penyebab sistemik (systemic causes) adalah ketika krisis disebabkan oleh hal-hal di luar jangkauan pihak-pihak yang berwenang dan dampaknya bersifat non-lokal.

Dengan mengadopsi Euro, investor melihat asset-aset yang lebih menarik di negara-negara Euro Zone, sehingga menimbulkan arus dana keluar yang besar dan exuberant dari negara-negara Eropa ke negara-negara seperti Yunani dan Portugal. Akhirnya terjadi dampak ‚Äúcapital flow bonanzaz ‚Äú(Reinhart) dan ‚Äúsudden stop‚ÄĚ (Calvo, Izquierdo, dan Mejia). Selain itu, penggunaan single currency Euro juga sangat membatasi fleksibilitas negara-negara Euro-Zone dalam pengelolaan neraca pembayaran.

 

 

Indikator yang tepat untuk mengukur dampak dari krisis yang disebabkan oleh penyebab sistemik adalah defisit transaksi berjalan. Data hingga saat ini, Portugal(-9.4%)< Yunani (-8.4%)< Spanyol (-5.8%)< Irlandia (-1.8%).

Namun demikian, sebenarnya pada awal pembentukan Euro, negara-negara Euro-Zone sudah mengalami defisit transaksi berjalan yang melonjak tajam dan defisit anggaran yang semakin ketat. 

Mengapa Krisis Eropa tidak dapat diantisipasi sebelumnya ?

  1. Antar bank masih saling meragukan kelayakan partnernya, karena banyak diantara mereka yang menginvestasikan dananya di produk- produk keuangan yang ‚Äėopaque‚Äô dan ‚Äėoverprice‚Äô
  2. Akibatnya interbank market rontok dan premi resiko pinjaman antar bank melonjak.
  3. Bank menghadapi masalah likuiditas yang parah
  4. Kebanyakan masih menganggap ini adalah masalah likuiditas, dan tidak menduga akan terjadi kerontokan secara sistemik.

 

Source : file://upload.wikimedia.org/ Wikipedia/commons/0/0c/Public-debt-percent-gdp-world-map-2010.svg

 

Yunani

Yunani adalah salah satu negara yang tumbuh sangat pesat, sekitar 4,2 % pertahun pada periode 2000-2007 , ditopang oleh arus masuk yang sangat deras. Ekonomi yang buoyant dan yield obligasi yang terus menurun menyebabkan  pemerintah Yunani mengalami structural defisit yang sangat besar. Hal yang sama juga terjadi di Portugal.

Irlandia

Sovereign debt crisis yang yang terjadi di Irlandia bukan disebabkan oleh belanja pemerintah yang terlalu besar, namun diakibatkan karen Pemerintah yang  menjamin 6 bank Irlandia yang membiayai property bubble. 29 September 2008,Menteri Keuangan Irlandia menerbitkan jaminan satu tahun untuk semua deposito dan pemegang obligasi

          Diperkirakan perekonomian global akan semakin melemah, karena :

  1. Masalah pengangguran yang semakin tinggi -9%
  2. Adanya potensi krisis utang lainnya di negara anggota Euro zone lainnya, seperti Italia dan France
  3. Terganggunya global supply chain di German and Perancis, dan
  4. Perlambatan pertumbuhan ekonomi China, motor penggerak dunia

Italia

            Krisis di Italia memasuki babak baru seiring melonjaknya tingkat imbal hasil surat utang pemerintah. tingkat imbal hasil surat berharganya melonjak hingga 7,502 persen, tertinggi sejak Euro diperkenalkan pada tahun 1999. Investor terpaksa menjual surat-surat berharga Italia setelah kustodian Eropa menaikkan kolateral yang dibutuhkan untuk meminjam dengan surat utang itu. Tingkat imbal hasil 7% adalah sama dengan negara-negara Eropa yang sedang mencari dana talangan akibat melonjaknya biaya-biaya utang seperti Irlandia dan Portugal.  Investor semakin khawatir ketidakstabilan kondisi politik setelah mundurnya Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi bisa menyebabkan reformasi ekonomi tertunda. Jika krisis Italia memburuk, maka para pemimpin Eropa dan internasional harus berjuang untuk memberikan bailout yang cukup besar pada Italia yang merupakan negara terbesar ketika di kawasan Eropa. Padahal menurut seorang pejabat, kawasan Eropa tidak memiliki rencana untuk penyelamatan Italia.

 

Kondisi perekonomian global saat ini terlihat dalam index-index di bawah ini.

  1. 2.   Dampak Krisis Eropa terhadap Negara-negara berkembang

Dampak Krisis Utang Eropa dan Amerika terhadap negara-negara berkembang adalah :

  1. Melambatnya proses perbaikan ekonomi di AS berdampak negatif pada perekonomian negara mitra dagang AS
  2. Harga minyak dan komoditas cenderung bertahan di level yang tinggi, memperlemah produksi dan konsumsi global, berpotensi meningkatkan inflasi dan overheating di negara-negara berkembang
  3. Besarnya fiscal imbalances di negara-negara maju memaka dilakukannya penyesuain fiskal, yang memperburuk prospek perekonomian global kedepannya dan meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global.
  1. 3.   Dampak Krisis Eropa terhadap Indonesia

Source : Bank Indonesia

 

Seperti terlihat di tabel, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 %, dengan kondisi makro yang masih baik. Dilihat dari sumber-sumber pertumbuhan, kondisi makro Indonesia adalah:

  • Dari sisi permintaan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Ekspor ¬†dan Impor yang masih meningkat, apalagi didukung oleh kenaikan harga komoditas

 

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Konsumsi domestik yang masih tinggi, didukung oleh peningkatan daya beli masyarakat

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Investasi yang melonjak, terutama di sektor bangunan dan infrastruktur.

  • Dari sektor penawaran

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sektor manufaktur tertentu mulai bergairah

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sektor perdagangan dan restoran mulai meningkat

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sektor transportasi dan telekomunikasi mulai bergairah

 

  • Surplus Neraca Pembayaran

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Transaksi berjalan mengalami surplus karena peningkatan harga komoditas, yang menutupi¬† kenaikan impor minyak dan gas

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Surplus transaksi modal dan keuangan bertambah besar karena persepsi positif oleh para investor mengenai fundamental ekonomi Indonesia yang bagus dan imbal hasil (yield) rupiah yang menarik.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sebagai akibatnya, cadangan devisa meningkat tajam, diatas 120 USD milyar, yang merupakan yang tertinggi sepanjang masa dan lebih dari 2 kali lipat hanya dalam dua tahun.

Prospek arus modal masuk ke Emerging Market adalah sebagian besar private inflows ke Emerging Market mengalir ke China (USD 300 Milyar) dan India (USD 104,1 Milyar). Sedangkan sekitar USD 68 Milyar diperkirakan akan masuk ke Negara Asia lainnya.

 

Item (Sisi Liabilities ‚ÄďUSD Juta

2009

2010

2011f

2012f

Total Capital Inflows (Private and Public Inflows)-EM Asia-IIF

393,900.0

513,100.0

498,500.0

456,300.0

Capital Inflows Indonesia

19,151.7

32,987.7

30,765.6

32,691.4

Source  :IIF June 2011

            Selain itu, Indonesia juga mulai mengalami perubahan struktur arus modal masuk, dimana Direct Investment meningkat pesat dibanding Portfolio Investment.

 

Source : IIF June 2011

 

Namun, masih ada kemungkinan Indonesia terkena dampak dari Krisis Utang Eropa, melalui dua jalur : jalur financial dan jalur perdagangan. Dampak- dampak tersebut adalah :

  1. 1.¬†¬† Ancaman ‚ÄėRoubini‚Äô

 

Kondisi Tiongkok yang terlihat baik-baik saja temyata juga bisa menjadi ancaman baru bagi perekonomian nasional. Dengan peluang terjadi yang cukup besar, jika China terkena dampak dari krisis Eropa, Indonesia harus lebih berhati-hati dalam mencegah dampak krisis global melalui China.

 

  1. 2.   Dari sektor moneter dan keuangan

Terjadi kekeringan likuiditas di pasar dunia dan potensi reversal di pasar saham dan SBN, menyebabkan investor di pasar modal Emerging Market menarik dananya secara tiba-tiba, menimbulkan arus modal keluar yang besar dan tak terduga, sehingga menekan nilai tukar mata uang suatu negara dan pelemahan cadangan devisa. Hal ini telah terjadi di Indonesia di September 2011.

Arus modal masuk yang deras masih tetap sangat mungkin, apalagi rating Indonesia sudah satu level dibawah level investment grade, dan bahkan banyak investor yang sudah menganggap Indonesia telah termasuk ke dalam Investment Grade Level.

  1. 3.   Sektor Riel

Permintaan negara yang terkena dampak krisis merosot tajam, ekspor Emerging Market menanggung imbasnya. Indonesia mulai merasakan itu saat ini, dengan belum masuknya order kepada pengusaha-pengusaha barang ekspor, padahal secara normal seharusnya order unruk tahun depan sudah diterima saat ini.

 

  1. 4.   PDB

 

  1. PBD berpotensi turun
  2. Kemungkinan sumber-sumber PBD, seperti konsumsi (C), investasi(I), eksport(X), dan import (M) turun dengan skala tertentu
  3. Kemungkinan terburuk dapat mengganggu sektor manufaktur domestik

 

  1. 5.   Inflasi

 

Inflasi kemungkinan turun sebagai akibat dari konsumsi domestik yang menurun dan imported inflation yang turun. Kondisi di Indonesia sampai saat ini CPI masih dapat terkontrol dengan baik. Core inflation sedikit meningkat, terutama karena rupiah sedikit terapresiasi dan peningkatan harga pangan dunia. Selain itu, hampir tidak ada dampak dari administered prices, karna Pemerintah tidak menaikkan harga barang-barang strategis, seperti BBM dan Kereta Api. Namun, terlihat ancaman dari kenaikan beras dan ketidakpastian kebijakan subsidi BBM yang harus terus dicermati

 

Source : BPS

 

  1. 6.   Sektoral Eksternal

 

  1. Penanaman Modal Asing (PMA) berkurang
  2. Apresiasi nilai tukar diserati dengan volatiliats yang tinggi

Namun sampai saat ini, rupiah telah melemah sejak Oktober 2011 akibat krisis Eropa. Krisis Eropa membuat para investor ingin lebih mengamankan investasi portofolio mereka. Selain itu berbagai isu lain yang mengancam termasuk isu politik, bahkan isu baru bahwa Jerman menginginkan salah satu negara (Yunani) untuk exit, atau pembubaran Euro yang berdampak pada penguatan dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus melemahkan rupiah. Persis seperti perkiraan sebelumnya apresiasi rupiah akan terjadi dengan laju apresiasi semakin terbatas akibat faktor resiko gagal bayar yang terus meningkat. Penguatan rupiah disertai dengan pengurangan volatilitas.

 

Source : IIF June 2011

 

  1. 4.   Prospek Perekonomian Kedepan terkait dengan Krisis US dan Eropa

Emerging Market memiliki ruang gerak yang lebih leluasa dibandingkan Developed Countries. Hal ini dibuktikan oleh :

  • Index Fleksibilitas Kebijakan (Policy Flexibility Index) menunjukkan bahwa cukup banyak kebijakan yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak resesi dan mempercepat kebangkitan ekonomi memlaui penyesuaian nilai tukarnya.
  • HSBC menggunakan proprietary indices yang menunjukkan bahwa secara umum, Emerging Market lebih kuat dan resilient dibanding tahun 2008 dan memilki fleksibilitas lebih tinggi untuk memerangi penurunan kegiatan ekonomi. Dalam hal ini, China, Indonesia, Brazil, Philippines, Taiwan, dan Korea tergolong lebih baik posisinya untuk menahan serangan, seperti tipe krisis 2008. Sedangkan Venezuela, Turkey, dan Egypt agak rawan dan Hungary diprediksi akan lebih kuat posisisnya dibanding pada krisis 2008.

Namun, tetap ada kekuatiran karena secara menyeluruh data makro dunia semakin memburuk, termasuk Indonesia, meskipun relative lebih baik dibanding negara-negara lainnya dengan pasar keuangan yang extremely volatile dan kemungkinan besar ‚Äúpermarisk‚ÄĚ.

Ada 4 langkah untuk menganalisa tingkat kerawanan Emerging Market dalam menghindari Krisis Utang Eropa disbanding krisis 2008 :

  1. Menganalisa dalamnya dan panjangnya resesi ekonomi akibat krisis 2008
  2. Memakai Enhanced Vulnerability Index untuk mengidentfikasi negara-negara yang lebih kuat maupun lebih lemah.
  3. Melakukan review terhadap policy responses 2008
  4. Menggunakan Enhanced Policy Flexibility Index¬† untuk mengidentfikasi ‚Äúpolicy firepower‚ÄĚ.

Dari hasil identifikasi ternyata, pada krisis 2008, kebanyakan emerging market tidak mampu sepenuhnya melepaskan (fully decouple) keterkaitan dengan negara maju  di Barat, terutama karena hubungan keuangan dan ekonomi yang sangat berat, maka asset Emerging Market menderita penularan (contagion) dari penurunan valuasi asset di negara maju. Namun, dari semua emerging markets yang terkena dampak resesi, ada sebagian negara-negara yang cepat pulih dan bangkit kembali. Maka telah dilakukan kualifikasi performa emerging markets berdasarkan :

  1. Jumlah kuartal terjadinya kontraksi perekonomian berdasarkan seasonally adjusted terms
  2. Lamanya kegiatan ekonomi pulih kembali ke tingkat pre-crisis
  3. Cepatnya gejolak ekonomi mengikuti US dan Europe

 

 

Dari hasil kualifikasi tersebut, terdapat 3 cluster di Emerging Markets.

  1. Cluster pertama (First Cluster), adalah negara-negara yang tidak merasakan resesi sama sekali, yakni India, China, Indonesia, dan Vietnam.
  2. Cluster kedua (Second Cluster), adalah negara yang membutuhkan satu atau dua tahun untuk kembali ke tingkat GDP pre-crisis, dengan penurunan kegiatan ekonomi sekitar 2-4 kwartal. Negara-negara yang termasuk didalanya adalah Brazil, Chile, Malaysia, Poland, dan Korea
  3. Cluster ketiga (Third Cluster) adalah negara-negara yang mengikuti gelombang krisis seperti US, dan negara Euro-Zone lainny, yang sampai saat ini belum mencapai GDP pre-crisis, yakni Rusia, the Czech Republic, Hungary, Turkey, Mexico, dan Venezuela.

 

  1. 5.   Implikasi Kebijakan dalam Pencegahan Dampak Krisis

 

Meskipun Indonesia termasuk dalam cluster pertama yang tidak terpengaruh krisis dalam proporsi yang tidak signifikan, Indonesia perlu mempersiapkan diri dalam menahan dampak yang kurang baik akibat krisis Eropa terhadap pereonomian nasional dengan cara.

 

  • Menjaga kestabilan harga untuk mendukung kestabilan makro ekonomi secara menyeluruh harus dilengkapi dengan stabilitas sistem keuangan
  • Formulasi kebijakan moneter harus mempertimbangkan peran dan dinamika sistem¬† keuangan, terutama terkait dengan procyclicality dan price stability risk.
  • Beberapa indikator harga asset seperti harga saham dan harga property, perlu diperlengkapi dengan data terkini dan dimasukkan dalam perhitungan.
  • Mendorong pasar dalam negeri supaya bisa tumbuh lebih cepat
  • Introduksi regulasi untuk menghindari bubbles merupakan necessity, bahkan merupakan kewajiban.
  • Perlu melakukan review pengelolaan arus modal
  • Perlu divesifikasi usaha, ekspor, dan perbaikan infrastruktur secara menyeluruh- baik fisik maupun non fisik, termasuk kepastian hukum-.

 

 

 

 

  1. 6.   Kesimpulan

Sejauh ini, Indonesia masih dalam keadaan yang aman dan baik. Dari vulnerability index yang dikembangkan oleh HSBC, terlihat bahwa Indonesia most likely akan tetap bertahan, meskipun krisis Eropa akan berakhir dengan krisis global lanjutan. Namun, data juga menunjukkan bahwa pertumbuhan GDP Indonesia menjadi lebih rendah dari target akibat terkena dampak dari krisis global, maka sangat perlu dilakukan kebijakan-kebijakan pencegahan krisis seperti telah dibahas sebelumnya.

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

CONSTANT MARKET SHARE ANALYSIS (CMSA) EXPORTED VALUE FROM MALAYSIA TO JAPAN 2005-2010

CONSTANT MARKET SHARE ANALYSIS (CMSA)

EXPORTED VALUE FROM MALAYSIA TO JAPAN

2005-2010

                                                                                        Frida Yanti Putri Nababan

1006689952

 

  1. 1.      Pengantar

 

Constant Market Share Analysis (CMSA) adalah metode statistik yang popular dilakukan untuk mendekonstruksi (membedah) perubahan pada arus perdagangan internasional terhadap beberapa komponen, yaitu efek pertumbuhan impor, efek komposisi, dan efek daya saing.

Dalam essay singkat ini, saya akan berusaha mencari tahu komoditas bersaing ekspor Malaysia di pasar Jepang.

 

  1. 2.      Methodology

 

 

NOTES:

Xij1= Ekspor dari Komoditas i menuju negara j pada periode t-1

Xij2= Ekspor dari komoditas i menuju negara j pada periode t

m= Persentase perubahan dasri seluruh komoditasyang diimpor oleh negara j

mi= Persentase perubahan impor dari komoditas i pada negara j

 

INTERPRETASI

 

  • Efek Pertumbuhan Impor yang positif mengimplikasikan ekspor suatu negara pada komoditas tertentu meningkat karena permintaan pada pasar tujuan terhadap komoditas itu juga meningkat, vice versa
  • ¬†Efek Komposisi yang positif mengimplikasikan ekspor suatu negara pada komoditas tertentu meningkat karena komposisi komoditas yang baik pada negara tersebut, vice versa. Komposisi ini juga mengimplikasikan terjadinya spesialisasi pada produk tersebut.
  • ¬†Efek Daya Saing yang positif mengimplikasikan adanya peningkatan ekspor yang disebabkan kemampuan penetrasi dari produk tersebut, vice versa.

 

 

  1. 3.      CMSA Nilai Ekspor Malaysia ke Jepang di tahun 2005-2010

 

 

Import Jepang 2005-2010

 

 

Dengan menginvestigasi seluruh total import Jepang pada tahun 2005 hingga 2010 dengan menggunakan data dari UN-Comtrade, maka saya menemukan 5 produk import tertinggi yang masuk ke Jepang, yaitu:

√ľ¬† Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes

√ľ¬† Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles

√ľ¬† Wood and articles of wood; wood charcoal

√ľ¬† Nuclear reactors, boilers, machinery and mechanical appliances; parts thereof

√ľ¬† Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes

 

Setelah melakukan penghitungan CSMA (tersedia dalam bentuk excel) maka diperoleh hasil dari dekomposisi CMSA dari ekspor Malaysia ke Jepang di tahun 2005-2010.

 

Products

HS Code

Import Growth Rate

Composition Effect

Competitiveness Effect

Total Effect

Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes

 

27

$4,337,778,457

 

$184,153,766

 

$3,688,471,293.68

 

$8,210,403,517

 

Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles

 

85

$1,210,221,263

 

$327,366,053

 

$995,386,165.39

 

$2,532,973,482

 

Wood and articles of wood; wood charcoal

 

84

$74,720,073

 

$102,034,233

 

$60,158,813.42

 

$236,913,119

 

Nuclear reactors, boilers, machinery and mechanical appliances; parts thereof

 

44

($122,341,214)

 

$100,455,490

 

($96,711,301.96)

 

($118,597,026)

 

Animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes

 

90

$109,511,553

 

$44,477,265

 

$89,342,180.57

 

$243,330,999

 

Sumber : UN-COMTRADE, proceed

 

 

 

Sumber : UN-COMTRADE, proceed

 

INTERPRETASI

 

  1. 1.      Import Growth Rate

 

Seperti dapat kita lihat bahwa dari kelima produk tersebut, 4 dari 5 produk tersebut memiliki nilai import growth rate yang positif, sementara yang lainnya bernilai negatif. Nilai import growth rate yang bernilai positif berarti ekspor Malaysia pada komoditas 4 komoditas tersebut, yaitu mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral waxes; electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers, television image and television image and sound recorders and reproducers, and parts and accessories of such articles; wood and articles of wood; wood charcoal; dan animal or vegetable fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; animal or vegetable waxes meningkat karena permintaan pada pasar tujuan terhadap komoditas itu juga meningkat. Meningkatnya permintaan Jepang terhadap empat komoditas tersebut dapat dijelaskan oleh terjadinya gempa bumi dan tsunami yang mengakibatkan 3 kali kerusakan fatal, terutama di sisi supply, yaitu kerusakan karena gempa bumi itu sendiri, kerusakan karena tsunami, dan penurunan supply energy akibat kehancuran energi nuklir dan kilang minyak di Jepang. Hal ini pada awalnya menurunkan permintaan output karena semakin sedikitnya investor yang bersedia melakukan investasi di Jepang akibat resiko yang meningkat. Namun, akhirnya, seiring stabilnya perekonomian Jepang, akhirnya permintaan terhadap barang-barang import kembali menguat akibat kebutuhan rekonstruksi dan re-stock barang produksi. Hal ini yang menjelaskan import growth rate pada 4 komoditas import Jepang yang bernilai positif. Namun, akibat resiko penggunaan tenaga nuklir yang meningkat ,maka permintaan terhadap nuclear reactors menurun, seiring dengan semakin mahalnya biaya produksi maka boilers, machinery and mechanical appliances juga relative lebih sedikit dari yang seharusnya akibat fixed cost awal yang harus dikurangi di awal rekonstruksi produksi di Jepang pasca bencana.

 

  1. 2.      Composition Effect

Seperti bisa kita lihat, nilai composition effect pada ke 5 komoditas tersebut bernilai positif, yang berarti ekspor Malaysia pada kelima komoditas tersebut meningkat karena komposisi komoditas yang baik di Jepang, vice versa. Komposisi ini juga mengimplikasikan terjadinya spesialisasi pada kelima komoditas tersebut.Menurut Schott (2004), yang menjadi pendorong utama terjadinya spesialisasi produk adalah perbedaan endowment yang disebutkan dalam teori Hecksher-Ohlin. Dalam kondisi  ini, dengan Malaysia diindiksikan berhasil dalam melakukan spesialisasi produk-produknya sesuai denga factor endowment nya, Malaysia yang semakin capital intensive mulai melakukan spesialisasi di produk-produk yang bernilai tambah tinggi sehingga meningkatkan profit dan meminimalisasi biaya produksinya, sehingga proses produksi di Malaysia semakin efisien, terbukti dari volume ekspor Malaysia yang meningakt cukup signifikan sebesar 15.7% dan mengakibatkan total surplus sebesar RM 110.23 billion (MITI Report 2010)

 

 

  1. Competitiveness Effect

Sama seperti import growth effect, nilai competitiveness effect pada 4 dari 5 komoditas bernilai positif dan satu lainnya bernilai negatif. Nilai competitiveness effect pada 4 komoditas yang bernilai positif tersebut mengindikasikan peningkatan ekspor produk Malaysia di pasar Jepang yang disebabkan kemampuan penetrasi dari 4 komoditas tersebut. Hal ini lebih disebabkan dengan semakin tingginya permintaan dunia terhadap 4 komoditas ekpor Malaysia ini, terutama produk Electrical and Electronics(E&E). Nilai positif pada empat komoditas tersebut berarti meningkatnya negara tujuan ekspor Malaysia pad empat komoditas tersebut (penetrasi pasar meningkat). Hal ini dijelaskan oleh target Malaysia untuk memfokuskan diri dalammeningkatkan pangsa pasar terutama di negara-negara yang berpotensi menjadi kekuatan baru dengan produksi yang juga diprediksikan akan meningkat, seperti Brazil, Rusia, India, dan China (BRIC). Sedangkan produk seperti nuclear reactor jelas menurun permintaannya akibat terjadinya bencana akibat error implementasi tenaga nuklir di Jepang yang meningkatkan resiko negara-negara yang mengadopsi tenaga nuklir. Sehingga permintaan terhadap komoditas yang dipakai oleh negara-negara yang menggunakan tenaga nuklir mengalami penurunan negara tujuan ekspor.

 

 

*******

INDONESIA IMPORTED FROM USA. GERMANY, JAPAN, AND CHINA

Frida Yanti Putri Nababan

1006689952

_____________________________________________________________________________

Country Name

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

United States

47.47

52.46

53.35

57.14

67.71

74.26

84.23

100.00

97.08

101.31

106.84

118.40

Germany

94.97

95.67

100.00

97.93

98.39

121.63

144.05

Japan

88.50

92.00

89.26

73.91

82.02

100.00

91.98

88.85

100.90

119.77

China

46.18

51.36

58.70

61.75

63.19

62.35

73.68

100.00

108.23

131.17

183.43

249.41

2005

2006

2007

2008

2009

2010

125.26

132.04

133.46

128.52

107.45

123.31

156.61

182.65

212.43

237.97

186.02

214.89

135.68

152.72

163.30

200.95

145.06

182.45

293.39

351.87

424.95

502.89

446.25

620.47

Indonesia imported from USA. Germany, Japan, and China

Sumber : World Bank

Interpretation

Tabel diatas menunjukkan nilai import Indonesia dari USA, Jepang, dan China. BPS melaporkan di tahun 2012 terjadi kenaikan nilai import ke Indonesia hingga 10.82 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Barang-barang import Indonesia terutama masih didominasi oleh China sebagai pemasok terbesar, diikuti oleh USA, Jerman dan Jepang.

Seperti  yang kita lihat, sumber destinasi import Indonesia cukup terdiversifikasi dengan luas. Mari kita lihat secara lebih seksama ke grafik, ternyata jumlah barang import dari Jerman , Jepang, dan USA memiliki trend yang tidak terlalu jauh berbeda. Akibat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, banyak sektor industri yang melakukan ekspansi sehingga permintaan terhadap produk-produk import seperti mesin meningkat signifikan. Terbukti dari kenaikan 10.82 persen nilai import Indonesia didominasi oleh pembelian pesawat, komponen, dan mekanika pesawat, komponen transportasi yang masih didominasi oleh produk USA dan Jerman hingga Oktober 2012 (BPS). Kontribusi produk Jerman dan USA dalam nilai import Indonesia masih cukup tinggi namun cukup stabil dari tahun ke tahun.

Selain itu, kertas dan bahan-bahan kimia masih termasuk 10 barang import terbanyak di Indonesia. Komoditas tersebut masih didominasi oleh Jepang, sama seperti produk-produk USA dan Jerman, pertumbuhan permintaan Indonesia terhadap produk Jepang masih terus meningkat, namun trend nya cenderung stabil.

Hal yang paling menarik adalah meningkatnya jumlah barang yang diimpor dari China, setiap tahun nilai import nya tumbuh dengan cukup signifikan (garis yang ungu), terutama dari tahun 2003-2004, nilai import tumbuh sebesar 39.84%. Periode ini dekat sekali dengan periode penandatanganan ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) pada tanggal 4 November 2004. Jadi besar sekali kemungkinan bahwa peningkatan import yang sangat signifikan dari China ke Indonesia disebabkan oleh perjanjian perdagangan tersebut.

Terutama di tahun 2010, peningkatan nilai import Indonesia dari China meningkat sangat tinggi dibandingkan nilai import di tahun 2009, yaitu sekitar 39 persen, sangat tinggi jika sebelumnya kita lihat pertumbuhan nilai import dari tahun 2008-2009 turun dengan sangat signifikan juga, yaitu sekitar 11.3 persen. Peningkatan signifikan nilai import dari tahun 2009- 2010 merefleksikan implementasi nyata dari ACFTA yang menyetujui penekanan tariff hingga 0 persen di 6682 pos tariff di 17 sektor. Hal ini membuat produk China menjadi relatif lebih murah dibandingkan produk lokal atau bahkan produk import lainnya, meningkatkan demand local terhadap produk China.  Sementara, penurunan signifikan di tahun 2008 ke 2009 merefleksikan dampak dari krisis 2007-2008 yang melemahkan daya beli konsumen barang import di Indonesia dan mungkin juga peningkatan cost of production di China yang membuat nilai import ikut menurun.

******

INDONESIA IMPORTED FROM USA. GERMANY, JAPAN, AND CHINA

PERDAGANGAN INTRNATIONAL DAN UUD 1945

Perdagangan international yang terjadi saat ini ternyata masih banyak menjadi pro kontra ditengah masyarakat maupun para ahli. Apalagi dengan banyak bergaungnya istilah perdagangan bebas. Ada yang menempatkan dirinya sebagai pihak yang pro dengan beragumen bahwa dengan adanya perdagangan international dan atau bahkan perdagangan bebas¬† akan membuat sebuah negara mendapatkan gain from trade. Disisi lain yaitu pihak kontra berpendapat bahwa perdagangan international hanyalah akal ‚Äďakalan negara maju untuk menguasai negara berkembang. Negara berkembang hanya akan menjadi objek dalam perdangan international dan tidak akan mampu menjadi subjek.

Nah, Indonesia sebagai negara yang masih tergolong negara berkembang tentu masih dihadapkan dengan perdebatan ini. Sebagai negara yang memiliki konstituen tidak ada salahnya atau bahkan sudah seharusnya melihat perdagangan bebas dari kacamata kontitusi kita yaitu UUD 1945.

Pada hakikatnya konstitusi Indonesia yang juga mendukung dan mengusung politik bebas aktif  yang menyiratkan bahwa sebenarnya Indonesia memilki kebebasan untuk memilih dan juga ikut aktif dalam aktivitas dunia seperti perdamaian ataupun bahkan kegiatan perekonomian seperti perdagangan. Dari politik bebas aktif  ini jugalah yang melandasi Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka. Dan amanah pancasilapun menyiratkan kita untuk menganut sistem ekonomi campuran yang tidak menolak perdagangan internatioanal. Maka dari sini dapat disimpulakan bahwa konstitusi dan ideologi Indonesia pada hakikatnya tidak menolak perdagangan bebas.

Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bahwa dalam UUD 1945 , pasal 33  yang berbunyi:

(1)    Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Nah pada UUD tersebut bisakita lihat bahwa ada perintah yang mengatakan bahwa cabang-cabang penting itu dikuasai oleh negara , bumi air dan kandunganya digunakan sepeuhnya untuk kemkmuran rakyat. Nah hal inilah yang juga harus diperhatikan ternyata undang-undang juga memberikan batas terhadap perdagangan international itu. Tidak ditolaknya perdagangan International bukan berarti segala sesuatu secara bebas diperjual belikan secara international tetapi juga harus memperhatikan aspek kemakmuran rakyatnya. Dari sinilah sehendaknya titik tolak yang juga harus dimiliki oleh negara ini yaitu cerdas dalam mengambil kebijakan Perdagangan Internationalyng tidak mengabaikan kepentingan rakyat (dalam negeri). Sehingga kebijakan perdagangan  Tariff Barrier dalam suatu situasi atau momentum tertentu dibutuhkan dalam rangka mnejaga amanah konstitusi. Kita memang harus ikut perdagangan international tetapi perdagangan international yang tidak mengorbankan rakyat. Bersiap membenahi, tingkatkan  pemahaman konstitusi  dan perkuat daya saing merupakan lagkah penting untuk mengahdapi persaingan global. Agar tidak ada yang tersakitai dan menyakiti.

Azizon 1006771314

Commanding Heights: The Battle of Idea

Panji Caraka Djani (1006690102)

The Commanding Heights: The Battle for The World Economy merupakan sebuah buku karya Daniel Yergin dan Joseph Stanislaw yang diterbitkan pada tahun 1998 lalu dijadikan sebuah dokumenter oleh PBS pada tahun 2002. Seri dokumenter PBS ini sendiri membagi buku Commanding Heights menjadi 3 episode dengan durasi masing-masing 2 jam. Episode pertama merupakan The Battle of Ideas, episode kedua berjudul The Agony of Reform dan episode terakhir merupakan The New Rules of The Game. Dalam tulisan ini, saya akan mereview episode pertama dari Trilogi Commanding Heights.

The Battle of Ideas bisa dikatakan sebagai sebuah dokumenter yang relatif berat, terlebih karena durasi dokumenter ini yang cukup panjang membuat penonton lumayan bosan apabila tidak terlalu tahan dengan “tone” dari dokumenter ini. Namun tetap saja dokumenter ini menunjukkan sebuah pandangan yang menarik.

The Battle of Ideas ini menjadi sebuah judul yang cukup self explanatory dikarenakan membahas tentang perseturuan antara dua pandangan ekonom terkemuka yaitu John Maynard Keynes serta Friedrick von Hayek. Keynes memiliki pandangan bahwa pemerintah harus mengintervensi perekonomian karena market economy rentan terhadap market failure. Sedangkan Hayek beranggapan bahwa market akan memperbaiki masalah sendiri, dan keberadaan campur tangan dari pemerintah sendiri akan menimbulkan pengekangan pada pasar bebas, biasanya konsep ini dikenal dengan konsep laissez faire.

Semua bermula setelah berakhirnya Perang Dunia pertama dimana Austria maupun Jerman mengalami sebuah keterpurukan ekonomi. Namun di Amerika sedang terjadi boom yang ditandai dengan banyaknya orang Amerika yang berani beli saham radio. Namun implikasi dari boom ini menghasilkan sebuah bubble yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya The Great Depression. Akibat inilah terlihat jelas bahwa semakin banyak orang yang percaya kepada Keynes karena terlihat bahwa pasar tidak bisa memperbaiki disinya sendiri, sehingga pengikut Keynes semakin banyak. Namun pada tahun 1944, saat AS sudah mengikuti ajaran Keynes dan melakukan peminjaman uang dan di pompa saat Perang Dunia II berlangsung, Hayek menerbitkan bukut yang menjelaskan bahwa intervensi berlebih akan mengganggu mekanisme pasar. Buku ini tentunya tidak berpengaruh karena sudah banyak yang percaya Keynes.

Namun titik balik dari opini publik terjadi saat Amerika sedang mengalami stagflasi. Akibat stagflasi ini menunjukkan bahwa ajaran Keynes tidak sepenuhnya benar dan mengakibatkan orang untuk merubah opini terhadap Father of Economics itu sendiri. Sehingga lebih banyak yang memihak ke Hayek dan membuat Hayek menerima sebuah nobel dikarenakan Margaret Thatcher pun membela Hayek. Disinilah juga terlihat bahwa opini publik terdorong oleh tokoh-tokoh besar khususnya dalam politik seperti Reagan, Thatcher, dan Kennedy.

Pada dasarnya episode pertama berjudul Battle of Ideas ini menjadi tontonan yang menarik karena membuat kita berpikir tentang betapa berbedanya kedua ideologi ini, namun keduanya menjadi sebuah perdebatan yang hingga detik ini masih ramai dibicarakan oleh ekonom maupun politikus. Overall dokumenter ini memberikan beberapa perspektif baru dalam menganalisa market itu sendiri.

Funeconomics: Ini Contoh Intra-Industry Trade-kah?

Sitti Rasuna W.
0906490626

Ketika yang terjadi ialah sebuah negara mengimpor sekaligus mengekspor barang yang sejenis, maka itulah intra-industry trade. Contoh yang paling sering dikemukakan ialah perdagangan mobil, Jepang mengimpor Chrysler dari Amerika Serikat namun juga mengekspor Toyota ke sana. Intra-industry trade eksis karena adanya diferensiasi produk serta menggambarkan consumer choice yang banyak.

Ada dua jenis intra-industry trade:
1. Horizontal intra-industry trade, yaitu impor dan ekspor di satu sektor dan di state of processing yang sama.
2. Vertical intra-industry trade, yaitu impor dan ekspor di satu sektor namun berbeda state of processing-nya. Misalkan, komponen iPad diimpor China dari berbagai negara, kemudian di-assemble di China, dan diekspor kembali ke US, untuk diekspor lagi ke bermacam-macam negara.

Nah itu jelas. Bagaimana dengan ini? Suatu saat saya pergi ke sebuah supermarket dan melihat minuman P*cari Sweat (selanjutnya saya singkat PS) di sana. PS yang made in Japan ditaruh berdekatan dengan PS yang made in Indonesia. Botolnya berbeda, yang made in Indonesia terbuat dari plastik dan yang made in Japan dibuat dari alumunium. Komposisi konsentrasi elektrolitnya sama persis, informasi nilai gizinya berbeda hanya sedikit. Rasanya pun tidak jauh dari sama. Harganya PS made in Japan, dengan ukuran PS lokal lebih banyak, lima kali lipatnya.

pocarisweat

Ketika, taruhlah di Indonesia hanya diproduksi biskuit cokelat dan kemudian mengimpor biskuit stroberi, maka hal itu wajar. Namun, PS ini sama persis dan pula sama mereknya. Apakah diferensiasi produk juga bisa berdasarkan dari bungkusnya? (Hanya berbeda botol?) Apakah importir mengimpor PS made in Japan tergantung ‘basket‘ dan produk ini sudah termasuk di dalamnya atau kah dijual ditujukan untuk konsumen yang bukan price-sensitive shopper atau lagi apakah disasarkan untuk orang yang penasaran? Ah… saya nggak ngerti.

Bagaimana menurutmu?

%d bloggers like this: