Total Ekspor dan Total Impor Indonesia 1975-1990

Grafik 1. Total Ekspor danTotal Impor Indonesia 1975-1990
Sumber: UN Comtrade, diolah

Defy Oktaviani- 0906490563

Pada grafik di atas terlihat perkembangan nilai total ekspor dan impor Indonesia  selama tahun 1975-1990. Hal yang menarik untuk dilihat ialah periode tahun 1980an merupakan periode yang cukup fluktuatif bagi pergerakan total ekspor dan impor Indonesia.  Sejak akhir tahun 1970an hingga awal 1980an total ekspor maupun total impor mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini didorong oleh terjadinya oil boom akibat adanya konflik di Timur Tengah. Oil boom pada tahun 1970-1980 terjadi sebanyak dua kali. Selama periode 1970-1974 harga minyak melonjak dari $1.67/barrel menjadi $11.70/barrel. Kemudian periode kedua terjadi pada tahun 1979-1982, harga minyak yang telah mencapai $15,65/barrel naik menjadi 29,50/barrel pada tahun 1980. Kemudian pada tahun 1982 harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan harga mencapai $35.00/barrel (Bappenas). Kenaikkan harga minyak dunia mendorong peningkatan nilai ekspor secara signifikan pada tahun 1980. Hal ini terjadi karena pada masa itu ekspor Indonesia masih tergantung pada sektor migas. Akibat kenaikan ekspor tersebut maka pendapatan nasional meningkat, daya beli masyarakat terhadap barang impor juga meningkat sehingga terlihat pada tahun 1982 impor mengalami peningkatan yang besar. Pada tahun 1986 terjadi penurunan harga minyak dunia yang cukup drastis, selama enam bulan harga minyak turun sebesar 2/3 dari harga awal (Lewis, 1994). Total ekpor pun mengalami penurunan tajam pada tahun 1986. Sejak saat itu pemerintah mulai berusaha mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari minyak. Jika sebelumnya kebijakan bersifat inward-looking melalui substitusi impor, maka setelah oil boom berakhir, kebijakan perdagangan bersifat outward-looking dengan melakukan promosi ekspor (Roemer, 1994). Setelah oil boom komposisi ekspor non migas mengalami peningkatan. Industrialisasi dan promosi ekspor yang dilakukan membuat nilai total ekspor 1987-1990 terus mengalami peningkatan. Pada periode yang sama nilai impor juga mengalami peningkatan karena sebagian besar industri yang dikembangkan mengandalkan bahan baku impor (Widarjono, 2004). Dengan keberhasilan kebijakan ini maka pada tahun 1990 Indonesia dijuluki sebagai “East Asian miracle” (Rosser,2004).

Referensi:

Bappenas. Keuangan Negara, Perkembangan Moneter danLembaga-Lembaga Keuangan. www.bappenas.go.id/get-file-server/node/6731/

Lewis, Jeffrey D.1994. “Indonesia’s Industrial and Trade Policy During and After the Oil Boom”. HIID Development Discussion Paper no. 491. Harvard University. http://www.cid.harvard.edu/hiid/491.pdf

Roemer, Michael. 1994. “Dutch Disease and Economic Growth: The Legacy of Indonesia”. Development Discussion Paper no. 489. Harvard University. http://www.cid.harvard.edu/hiid/489.pdf

Rosser, Andrew. 2004. “Why did Indonesia overcome the resource curse?”. IDS Working Paper 222. http://www2.ids.ac.uk/gdr/cfs/pdfs/wp222.pdf

Widarjono, Agus. 2004. “Analisis Permintaan Impor Indonesia: Pendekatan Komponen Pengeluaran”. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 No. 2 hal 165-176.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: